Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah, BI Jateng Dorong Ketahanan Pangan dan Belanja Bijak

METROJATENG.COM, SEMARANG – Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Jawa Tengah menyiapkan berbagai langkah antisipasi untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah di tengah potensi dampak konflik di kawasan Timur Tengah terhadap perekonomian global.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M Nur Nugroho, mengatakan konflik geopolitik global perlu diwaspadai karena berpotensi memengaruhi perekonomian, terutama melalui kenaikan harga minyak dunia yang dapat meningkatkan biaya distribusi barang.

“Minyak merupakan komoditas dasar yang dampaknya bisa menyebar ke berbagai sektor. Jika harga minyak meningkat, biaya distribusi juga akan naik dan bisa mendorong kenaikan harga berbagai kebutuhan masyarakat,” ujarnya, saat membuka Gerakan Pangan Murah di Balaikota Semarang, Rabu, (11/3/2026)

Meski demikian, BI menilai kondisi ekonomi Jawa Tengah saat ini masih relatif terjaga. Untuk mengantisipasi berbagai risiko tersebut, BI memperkuat sejumlah strategi, terutama melalui penguatan ketahanan pangan dan pengendalian inflasi daerah.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah mendukung peningkatan produksi pangan. BI memberikan pendampingan kepada petani melalui program peningkatan kapasitas, bantuan sarana produksi, hingga dukungan pengolahan hasil panen. Untuk komoditas tertentu seperti beras, BI juga membantu penyediaan fasilitas pengolahan seperti dryer guna menjaga kualitas hasil panen.

Selain dari sisi produksi, BI juga memperkuat distribusi pangan agar pasokan tetap lancar dan harga lebih stabil. Langkah tersebut dilakukan melalui kerja sama distribusi antardaerah serta pelaksanaan Gerakan Pangan Murah di berbagai wilayah di Jawa Tengah.

Program tersebut sebelumnya telah dilaksanakan secara serentak di 31 kabupaten/kota, termasuk di Kota Semarang yang menjangkau ratusan kelurahan. Kegiatan ini bertujuan menjaga ketersediaan bahan pangan sekaligus memastikan harga tetap terjangkau bagi masyarakat, terutama menjelang Ramadan dan Idul Fitri ketika permintaan biasanya meningkat.

“Beberapa komoditas yang menjadi perhatian karena kerap memicu inflasi menjelang hari besar keagamaan antara lain cabai, bawang merah, bawang putih, beras, telur ayam, dan daging ayam,” katanya.

Untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah potensi tekanan global, BI juga mengedukasi masyarakat agar menerapkan pola konsumsi yang lebih bijak.

“Saya mengimbau masyarakat untuk memprioritaskan kebutuhan pokok serta lebih cermat dalam berbelanja dengan membandingkan harga sebelum membeli,” tuturnya.

Selain itu, masyarakat juga didorong memanfaatkan alternatif produk pangan yang lebih efisien, seperti cabai merah kering yang memiliki daya tahan lebih lama dibandingkan cabai segar.

“Cabai kering ini bisa disimpan hingga empat bulan, sehingga ketika harga cabai segar sedang tinggi, masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan tanpa harus membeli yang harganya mahal,” jelas Nugroho.

Di sisi lain, BI juga mendorong penggunaan sistem pembayaran digital melalui QRIS dalam berbagai transaksi, termasuk pada kegiatan pasar murah, sebagai bagian dari penguatan ekosistem ekonomi digital di daerah.

Melalui berbagai langkah tersebut, BI optimistis stabilitas harga dan daya beli masyarakat di Jawa Tengah tetap terjaga meskipun di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian. (*)

Comments are closed.