Ngopeni–Nglakoni: Jejak Pengabdian Tanpa Batas Para Ustazah Menjaga Cahaya Al-Qur’an di Kampung Teluk
METROJATENG.COM, PURWOKERTO – ‘Ar Rahman, Ar Rahiim, Al Malik, Al Quddus, AsSalaam, Al Mu’min…..’ Lantunan nama-nama Allah SWT menggaung dari ruang sederhana di Gedung Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ) Al Ittihad, Kelurahan Teluk, Kecamatan Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas. Puluhan anak, yang sebagian menggunakan seragam dan sebagian lagi menggunakan baju koko dan sarung, dengan fasih menyuarakan nama-nama Sang Pencipta.
Usai melantunkan Asmaul Husna, anak-anak mulai mengambil tempat duduk berbeda. Ada yang empat anak dengan satu guru, ada yang rombongan sampai 9 anak dan seterusnya. Mereka mulai membuka Iqro dan membacanya dengan bimbingan guru mengaji di depannya.
“Setiap sore anak-anak selalu mengaji di sini. Sebelum mulai aktivitas mengaji, kita bersihkan ruang kelas bersama-sama,” kata Anisah Mahfuzhoh, salah satu ustadzah di TPQ tersebut, Jumat (21/11/2025).
Anisah atau biasa disapa Ust Nisa, sudah mengajar di TPQ Al Ittihad sejak Tahun 2009. Saat itu, ia baru selesai kuliah di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto dan mengambil jurusan Bahasa Inggris. Meskipun tidak nyambung dengan pekerjaannya sebagai guru ngaji, namun ibu dua anak ini sangat mencintai pekerjaannya.
“Sejak usia 25 tahun saya sudah mengajar di sini, bahkan sebelum lulus kuliah, saya juga terkadang sudah ngajar ngaji anak-anak, membantu ayah saya yang juga merupakan guru ngaji,” tuturnya.
Nisa merupakan anak ke-4 dari enam bersaudara, putri dari pasangan Abdul Hamid yang merupakan imam masjid dan juga guru ngaji dan Muflihati, yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang di Pasar Wage. Setelah ibunya memasuki masa tua, Nisa meneruskan pekerjaan ibunya berdagang di Pasar Wage. Ia menjual bawang merah, bawang putih dan beberapa jenis sayuran lainnya.
Nisa memulai aktivitas usai Subuh. Ia sudah berangkat ke Pasar Wage dan baru pulang ke rumah sekitar pukul 11.00 WIB. Setelah itu, ia biasanya mengurus stok dagangan di rumah, dengan dibantu beberapa karyawannya.
“Bawang itu kadang ada yang besar dan kecil, jadi harus disortir, yang besar kita jual dan yang kecil-kecil kita olah menjadi bawang goreng. Jadi siang hari kita nggoreng bawang di rumah dan pagi hari dijual di Pasar Wage,” kata Nisa yang membuka lapak di Blok C.

Hasil Gotong-Royong
Nisa tinggal di rumah sederhana, tepat di belakang masjid. Sejak kecil, ia terbiasa melihat ayahnya mengajar mengaji. Awalnya pengajian dilakukan di masjid. Namun, seiring bertambahnya jumah santri, masjid sudah tidak bisa menampung lagi. Kemudian tempat mengaji dipisah, dengan menampati beberapa garasi rumah milik warga.
Melihat antusiasme anak-anak untuk mengaji, warga pun tergerak untuk membuatkan TPQ. Beruntung, ada warga yang mewakafkan tanahnya dan untuk membangun TPQ, warga kampung gotong-royong hingga bangunan permanen tersebut berdiri.
“Ini hasil gotong-royong warga dan menjadi tempat anak-anak untuk belajar mengaji,” tutur Nisa sambil memperlihatkan beberapa ruangan di bangunan tersebut.
Meski berada di jalan yang tidak terlalu lebar, bangunan TPQ Al Ittihad berdiri dengan kokoh. Riuh canda tawa anak-anak selalu meramaikan tempat tersebut di sore hari, yang dilanjutkan dengan lantunan suara anak-anak mengaji.
“Anak-anak tidak hanya mengaji Iqro saja, tetapi kita juga ajarkan doa-doa harian, hafalan suratan pendek, adab serta akhlak. Ustadzah di sini latar belakangnya beragam, ada yang ibu rumah tangga, pekerja kantoran, pedagang dan lainnya, tetapi kita mempunyai kesamaan, yaitu sama-sama mencintai anak-anak,” ucapnya.

Luthi-Yasin Ngopeni TPQ
Bekerja dengan dilandasi rasa cinta ini bukanlah omong kosong. Nisa sudah puluhan tahun membuktikannya. Meskipun lelah usai berdagang di Pasar Wage, sore hari Nisa tetap berangkat ke TPQ untuk berbagi ilmu dengan anak-anak. Dan rasa lelah ini, pada awalnya hanya mendapat honor Rp 50 ribu per bulan, yang kemudian meningkat menjadi Rp 300 ribu per bulan.
“Anak-anak dulu hanya ditarik biaya Rp 5 ribu per bulan, itu pun bagi yang tidak bisa membayar, tidak pernah ditagih, jadi sifatnya sukarela. Sekarang iuran bulanan Rp 20 ribu dan masih sukarela. Dalam satu bulan rata-rata terkumpul Rp 600 ribu dari iuran anak, sedangkan jumlah guru di TPQ ini da 7 orang. Untuk honor guru, ditambah dengan uang infak kaleng yang dikelola muslimat,” kata Nisa.
Namun, sekarang ini para guru ngaji juga mendapat tambahan honor dari Pemprov Jateng yang langsung ditransfer ke rekening pribadi. Honor tambahan dari Pemprov Jateng yang juga merupakan program Ngopeni-Nglakoni dari Gubernur Jateng, ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin ini, besarnya Rp 100 ribu per bulan dan diberikan setiap tiga bulan sekali.
Nisa mengatakan, honor guru ngaji yang diberikan Luthfi-Taj Yasin merupakan bentuk perhatian kepada para guru ngaji, yang nilainya tidak bisa diukur dari besaran uang yang diterima.
“Bukan uangnya saja, tetapi bentuk perhatiannya yang lebih menggugah hati para guru ngaji. Pak Gubernur dan Gus Yasin benar-benar ngopeni guru ngaji,” tuturnya.
Pengajar lainnya, Siti Solehah mengakui, jika tambahan honor dari Pemprov Jateng tersebut sangat membatu ekonomi keluarganya. Siti yang sudah 6 tahun mengajar di TPQ Al Ittihad mengatakan, untuk honor terakhir yang diterimanya pada bulan September lalu, sampai hari ini belum diambil. Siti sengaja menyimpan honor tersebut, untuk membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) anaknya yang sekarang duduk di semester 7.
“Insentif terakhir belum saya ambil, memang saya tabung untuk bayar UKT anak saya,” ucapnya sambil tersipu.
Terpisah, Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Ponpes Kemenag Banyumas, H. Faisal Riza S.Ag M.Si mengatakan, jumlah guru ngaji di Banyumas yang mendapatkan insetif dari Pemprov Jateng cukup banyak, yaitu lebih dari 6.300 orang.
“Update data selalu dilakukan secara berkala, karena kita ingin bantuan ini benar-benar tepat sasaran,” jelasnya.
Dari lantunan ayat suci hingga senyum anak-anak yang baru belajar mengeja huruf hijaiyah, setiap sore di TPQ Al Ittihad adalah saksi pengabdian tanpa batas. Para ustazah memberi dengan hati, mengajarkan adab dan akhlak tanpa terpaku pada besaran honor. Mereka percaya, sekecil apa pun ilmu yang diajarkan akan berbalas pahala yang tak putus, amal jariyah yang terus mengalir hingga akhir. Dan bentuk perhatian dari Ahmad Luthi-Taj Yasin yang ngopeni guru ngaji, menjadi penyemangat tersendiri bagi para guru ngaji di Banyumas, karena sejatinya pendidikan adab dan akhlak tak kalah pentingnya dengan pendidikan formal.
Comments are closed.