Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Ribuan Kasus Keracunan Bayangi Program Makan Bergizi Gratis, DPR Minta Evaluasi Total

METROJATENG.COM, JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang pemerintah sebagai upaya meningkatkan kesehatan anak bangsa kini menuai sorotan tajam. Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, menilai banyaknya kasus keracunan makanan yang dialami siswa harus menjadi alarm serius bagi pemerintah.

“Kasus-kasus yang terjadi di lapangan, seperti keracunan makanan, tidak boleh dianggap sepele. Ini harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh agar tujuan mulia program MBG benar-benar tercapai,” tegas Netty.

Berdasarkan laporan CISDI, sejak awal pelaksanaan hingga saat ini, tercatat 5.626 kasus keracunan di 16 provinsi. Jawa Barat menjadi wilayah dengan jumlah tertinggi, yakni 2.051 kasus. Netty menilai angka tersebut mengkhawatirkan, karena sebagian korban tidak hanya jatuh sakit, tetapi juga mengalami kerusakan kesehatan yang serius.

“Makanan yang menyebabkan keracunan tentu ada kesalahan dalam prosesnya, bisa karena kelalaian, atau bahkan dugaan tindak pidana,” ujarnya.

Politisi PKS itu menekankan, standar keamanan pangan harus diperketat mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi makanan ke sekolah. Ia juga mendorong koordinasi erat antara Kementerian Kesehatan, BPOM, Dinas Pendidikan, dan pemerintah daerah untuk menginvestigasi setiap kasus serta menyiapkan langkah perbaikan.

“Sinergi lintas sektor sangat penting agar penyebab kasus ini segera teridentifikasi dan bisa dicegah agar tidak terulang di daerah lain,” tambahnya.

Selain pengawasan dari pemerintah, Netty menilai peran orang tua dan sekolah juga tak kalah penting. Transparansi informasi mengenai kualitas makanan, kata dia, akan menumbuhkan rasa percaya publik dan memperkuat partisipasi dalam menjaga keberlangsungan program.

Meski demikian, Netty menegaskan dirinya tetap mendukung kelanjutan MBG. “Insiden ini harus jadi momentum untuk memperbaiki kualitas pelaksanaan MBG, agar benar-benar menjadi instrumen peningkatan gizi dan kesehatan anak bangsa,” pungkasnya.

Comments are closed.