UIN Saizu Dorong Penerapan Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi Lewat Seminar Nasional
METROJATENG.COM, PURWOKERTO – Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto kembali menegaskan perannya sebagai pelopor pendidikan berbasis nilai dengan menggelar seminar nasional bertema “Cinta, Agama, dan Alam: Mewujudkan Kebijakan Program Prioritas Kementerian Agama Berbasis Spiritualitas.”
Seminar ini menjadi momen strategis yang mempertemukan dunia akademik dan arah kebijakan pemerintah. Hadir sebagai pembicara utama, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Amien Suyitno, yang mewakili Menteri Agama, Prof. Nasaruddin Umar. Ia menyoroti pentingnya kurikulum pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga menyentuh ranah spiritual dan ekologis.
Rektor UIN Saizu, Prof. Ridwan, dalam sambutannya menyampaikan bahwa seminar ini merupakan langkah konkret dalam mengintegrasikan delapan program prioritas Kementerian Agama (Asta Protas) ke dalam budaya kampus. Salah satu sorotan utamanya adalah penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan penguatan ekoteologi dalam sistem pendidikan tinggi Islam.
“Kita ingin menciptakan kampus yang tidak hanya unggul secara intelektual, tapi juga memiliki kepekaan spiritual dan kepedulian ekologis. Kurikulum berbasis cinta ini bukan jargon, melainkan harus menjadi aksi nyata,” tegas Prof. Ridwan.
Ia menekankan bahwa isu pendidikan yang ramah, inklusif, serta berorientasi pada keberlanjutan lingkungan harus menjadi napas kehidupan kampus. Seminar ini, menurutnya, adalah upaya membangun literasi kebijakan yang siap diterjemahkan ke dalam program konkret.
Pendidikan Bernapas Cinta
Dalam pemaparannya, Prof. Amien Suyitno membawa peserta seminar merenungi krisis lingkungan yang semakin memprihatinkan—dari kebakaran hutan hingga pencemaran alam. Menurutnya, kampus-kampus keagamaan harus menjadi garda terdepan dalam menjawab tantangan tersebut.
“Penanaman pohon, pembelajaran ekoteologi, dan pelibatan mahasiswa dalam pengabdian berbasis lingkungan bukan lagi pilihan, tapi kewajiban moral,” ujar Prof. Amien.
Ia juga memaparkan Panca Cinta, lima pilar utama Kurikulum Berbasis Cinta:
-
Cinta kepada Allah dan Rasul,
-
Cinta ilmu,
-
Cinta lingkungan,
-
Cinta diri dan sesama,
-
Cinta tanah air.
Menurutnya, kelima pilar ini merupakan fondasi pembentukan karakter siswa dan mahasiswa yang toleran, peduli, dan siap menghadapi isu global dengan nilai-nilai luhur.
“Jika diterapkan dengan konsisten, KBC akan menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas, tapi juga berempati, mencintai bumi, dan mencintai sesama,” katanya.
Seminar ini bukan sekadar diskusi, melainkan menjadi titik tolak transformasi pendidikan berbasis spiritualitas dan cinta. Prof. Amien berharap UIN Saizu mampu menjadi kampus percontohan dalam implementasi program prioritas Kementerian Agama.
“UIN Saizu punya potensi besar. Mari jadikan semangat cinta dan peduli lingkungan sebagai nafas dalam setiap proses akademik,” tutupnya.
Comments are closed.