Wacana Haji dan Umrah Lewat Jalur Laut Kian Mengemuka, Menag: Belum Resmi Tapi Pintu Terbuka
METROJATENG.COM, JAKARTA – Gagasan penyelenggaraan ibadah haji dan umrah menggunakan kapal laut kembali mencuat, seiring berkembangnya industri pelayaran halal dan meningkatnya minat umat untuk merasakan perjalanan spiritual yang berbeda. Meski belum menjadi agenda resmi pemerintah, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyebut peluang ini terbuka lebar.
“Kita belum punya agenda resmi soal haji laut, karena soal waktu dan biaya belum pernah dibahas secara khusus. Tapi kalau Badan Penyelenggara Haji mengangkat ini, bukan tidak mungkin akan dibicarakan lebih lanjut,” jelasnya.
Wacana ini mencuat usai Chairman Indonesia Halal Lifestyle Center, Sapta Nirwandar, menyampaikan rencana umrah menggunakan kapal pesiar dalam forum tersebut. Ia memperkenalkan IslamiCruise, operator pelayaran halal asal Malaysia, yang akan meluncurkan perjalanan umrah mewah melalui kapal Costa Serena pada Januari 2026.
Rute pelayaran tersebut melintasi Port Klang – Banda Aceh – Maladewa – Oman – dan berakhir di Pelabuhan Jeddah. Durasi tempuhnya hanya 12 malam, jauh lebih cepat dari perjalanan kapal tradisional tempo dulu.
Menurut Nasaruddin, jika infrastruktur pendukung seperti pelabuhan dan sarana transportasi laut telah tersedia, maka penyelenggaraan haji dan umrah lewat laut dapat menjadi pilihan yang lebih terjangkau bagi masyarakat.
Ia menambahkan, model ini memungkinkan jemaah dari negara-negara di kawasan Asia, termasuk Indonesia, untuk mengakses Tanah Suci melalui pelabuhan seperti Jeddah tanpa bergantung sepenuhnya pada penerbangan.
“Bukan hanya negara-negara kawasan yang dekat seperti Mesir, bahkan dari Indonesia dan Asia lainnya bisa mengakses,” jelasnya.
Menag Nasaruddin menilai konsep umrah laut ini patut dijajaki lebih dalam, apalagi seiring berkembangnya kerja sama Indonesia dengan sejumlah pejabat Arab Saudi. Saat ini, jalur pelayaran ke Jeddah tengah dikembangkan agar dapat diakses tidak hanya oleh negara-negara di sekitar Laut Merah seperti Mesir, tetapi juga dari Asia Tenggara.
“Kemarin kami berdiskusi dengan pihak Saudi, dan mereka terbuka untuk membuka akses laut ke Jeddah bagi negara-negara Asia, termasuk Indonesia,” ungkapnya.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa pelaksanaan haji dan umrah melalui jalur laut masih membutuhkan kajian serius, termasuk infrastruktur, kesiapan badan penyelenggara, dan dukungan regulasi dari otoritas Arab Saudi.
“Ini belum jadi wacana resmi. Tapi saya pikir sangat mungkin dibicarakan ke depan jika semua pihak siap,” pungkas Menag.
Comments are closed.