Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Cerita Aiswa Djien Pandey, Catar Mantan Paskibraka dari Keluarga Sederhana di Malut

METROJATENG.COM, SEMARANG – Kegembiraan tergambar dari wajah Aiswa Djien Pandey, setelah lolos menjadi satu-satunya Calon Taruni (Catar) Akademi Kepolisian (Akpol) perwakilan Maluku Utara (Malut). Aiswa yang berasal dari keluarga petani sederhana di Malut, kini tengah  mengikuti seleksi tingkat pusat.

“Dari Maluku Utara totalnya ada lima orang calon taruna, terdiri dari empat putra dan satu putri. Saya peringkat pertama dan teman-teman dari Malut gugur saat tes jasmani”, ucapnya.

Aiswa berasal dari keluarga sangat sederhana, dimana ayahnya seorang petani dan ibunya merupakan ibu rumah tangga biasa. Namun, dibalik kesederhanaan kondisinya tersebut, Aiswa mengatongi bekal kuat untuk ikut seleksi catar, karena ia merupakan mantan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional. Pada perayaan HUT Kemerdekaan RI Tahun 2022 lalu, Aiswa masuk pasukan 17 sayap kiri tim Pancasila Sakti yang dikukuhkan langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Pengalaman jadi Paskibraka Nasional ini jadi modal saya, karena di Paskibraka kami sudah dididik, persiapan pengibaran sebulan lebih dari 15 Juli sampai 29 Agustus 2022, waktu di Paskibraka Nasional saya bertugas penurunan bendera”, ceritanya.

Latihan Fisik

Aiswa merupakan anak pertama dari tiga bersaudara yang berasal dari  Desa Wari, Kecamatan Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Meskipun perempuan, namun ia kerap membantu ayahnya bertani pala. Kontur daerah pegunungan, otomatis membuat fisik Aiswa juga terlatih.

“Kan pegunungan, pantainya juga bagus-bagus, jadi sudah sering naik turun gunung dan berenang”, kata Aiswa yang juga atlet voli ini.

Aiswa sudah terbiasa hidup berjuang sejak kecil. Sang ayah kerap melatih fisiknya dengan berlari dalam batasan waktu tertentu. Aiswa rutin latihan lari di Mako Brimob yang berada di Desa Kupa Kupa.
Sembari fisiknya ditempa, Aiswa juga secara mandiri mengembangkan kemampuan akademiknya. Sadar diri berangkat dari keluarga kurang mampu, Aiswa memaksimalkan apa yang ada untuk belajar.

“Saya berasal dari orang kurang mampu, jadi belajarnya dari online dan lewat buku saja. Saya tidak pernah ikut bimbel (bimbingan belajar) apapun”, ucapnya.

Gadis kelahiran 13 Februari 2006 ini berjuang mengikuti seleksi Akpol di tingkat pusat sendirian, tanpa ditemani kedua orangtuanya. Karena mereka tetap harus bekerja di untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Comments are closed.