Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Dukung Pemerataan Logistik, PT PIS Fokus Jadi Urat Nadi Perindustrian Energi Negeri Menuju Go Global

Kelancaran dan Ketahanan Distribusi Energi Ke Pelosok Negeri Tetap Prioritas Utama

0

 

METROJATENG.COM, SEMARANG – Keberadaan PT Pertamina International Shipping (PIS) sebagai Subholding Integrated Marine Logistics sangat penting dalam memasok kebutuhan energi ke berbagai tempat di tanah air, mengingat Indonesia merupakan negara yang memiliki ribuan pulau. Sebagai negara kepulauan kelancaran distribusi BBM dan Gas LPG hingga ke pelosok Indonesia menjadi prioritas PIS dalam berkontribusi positif mendungkung pemerataan logistik di seluruh wilayah Indonesia.

Direktur Armada Pertamina International Shipping Muhammad Irfan Zainul Fikri mengatakan, ke depan dengan strategi bisnis yang semakin matang, PIS akan terus berupaya mengembangkan lini bisnis lainnya yang mendukung bisnis inti pelayaran untuk menjadi Integrated Marine Logistics Company terkemuka di Asia.

Sebagai perusahaan subholding Pertamina, PIS terus berkomitmen menjadi perusahaan yang kompetitif untuk berkompetisi di kancah nasional dan internasional dengan visi menjadi “Perusahaan shipping terkemuka di Asia dan mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia”.

“Saat ini PIS mengelola 96 kapal tanker baik BBM maupun LPG, bahkan Pertamina sudah melakukan investasi untuk pembelian kapal baru. Investasi ini penting karena ke depan persaingan bisnis marine dan logistics sangat ketat, sehingga PIS akan menambah jumlah kapal dalam rangka memenangkan pasar domestik maupun international menuju Pertamina Go Global,”jelas Irfan.

Peluang pasar yang dimiliki PIS masih sangat besar dalam mendukung sektor kemaritiman khususnya yang terkait sektor bisnis energi. PIS kini sudah memiliki beberapa kapal tanker, mulai dari kapal VLCC (Very Large Crude Carrier), VLGC (Very Large Gas Carrier), bisnis lepas pantai atau offshore seperti Floating Storage Regasification Unit (FSRU), energi dan bahan bakar baru dan terbarukan, bahkan hingga pemanfaatan teknologi untuk mengurangi emisi CO2. PIS dalam menjalankan bisnisnya juga tetap menggunakan teknologi ramah lingkungan dalam rangka menunjang penggunaan Green Energy.

“PIS dalam pengembangan bisnisnya juga akan menangkap setiap peluang dan terus fokus menjadi urat nadi perindustrian energi untuk ”Go Global”. Di masa depan’PIS tidak hanya fokus ke sektor perkapalan yang menyediakan layanan angkutan saja, tetapi juga jasa terminal dan penyimpanan berstandar internasional. Cakupan muatan angkutan pun tak terbatas sektor bahan bakar energi seperti BBM dan crude, tapi juga untuk gas, petrokimia, dan kargo bulk/container,” jelas Irfan kepada wartawan Jumat (28/10/2022) di Semarang.

Pengembangan bisnis akan terus dilakukan demi kelancaran pasokan energi ke seluruh negeri baik itu BBM maupun gas LPG yang saat ini tengah dilakukan. Berbagai kerjasama akan dilakukan PT PIS dengan perusahaan dalam negeri maupun luar negeri  di sektor bisnis marine dan logistik

Jaga Ketahanan Energi – Kapal Pertamina siap menjaga ketahanan nasional Energi Hingga pelosok negeri . (ist/tya)

 

Dukung Pemerataan Logistik

Diakui Irfan Indonesia saat ini Indonesia belum mampu untuk membuat gas LPG, sehingga harus diimpor dari luar seperti dari negara Amerika dan Arabian Gulf.
Impor gas LPG ini, dilakukan pemerintah untuk menjaga ketahanan stok LPG hingga seluruh pelosok negeri.

Untuk itu PIS sebagai garda terdepan dalam pasokan energi menggunakan 2 Armada Very Large Gas Carrier (VLGC) yakni Pertamina Gas 1 dan Pertamina Gas 2 dengan kapasitas masing-masing 3.500 meter kubik. Kedua kapal ini bertugas membawa bahan baku gas berupa LPG Fully Pressurized yang diimpor dari Amerika dan Arabian Gulf menuju titik – titik lokasi pengolahan LPG di Indonesia diantaranya di Tanjung Sekong, merak Banten.

Menurut Irfan untuk mengangkut bahan baku LPG yakni Propane dan Butane dibutuhkan waktu lama sekitar 78 hari, bahkan bisa lebih tergantung cuaca. Bahkan dalam perjalanan ke Indonesia awak kapal juga terkadang harus menghadapi perompak, sehingga para awak kapal ini harus memiliki integritas tinggi dan metal yang kuat dalam menghadapi kendala tersebut agar barang yang dibawa bisa sampai ke Indonesia dengan selamat.

“Kekompakan para awak kapal tetap harus dijaga. Jangan sampai ada keterlambatan dalam pengiriman BBM maupun LPG. Karena terlambat sedikit saja akan memicu terjadi kelangkaan dan akan membuat panik semuanya,” terang Irfan.

 

Logistik – PT Pertamina International Shipping (PIS),komitmen jaga pemerataan logistik BBM dan LPG hingga pelosok negeri. (ist/tya)

 

Menurut Irfan perjalanan LPG  hingga sampai ke masyarakat memang berliku.  Karena setelah sampai di Tanjung Sekong bahan baku LPG tersebut  harus diolah lebih dulu. Bahan baku dari luar negeri ini yakni propane dan butane dicampur lebih dulu  dengan komposisi tertentu ke dalam tangki hingga menjadi menjadi LPG. Setelah pencampuran selesai, produk gas LPG tersebut akan didistribusikan ke beberapa titik lokasi di Indonesia seperti Rembang,  Semarang dan lainnya sesuai kebutuhan daerah masing- masing.

“Khusus di Semarang, begitu kapal VLCC Pertamina mengabarkan barang sudah sampai di Tanjung Sekong dan siap untuk diangkut, Kapal Gas Attaka dari Pelabuhan Tanjung Emas Semarang segera berlayar ke Tanjung Sekong untuk membawa gas LPG tersebut, ke Peldam Tanjung Emas Semarang untuk didistribusikan ke masyarakat, sesuai kebutuhan daerah masing,” jelas Irfan.

Proses pengiriman gas dari Tanjung Sekong , Merak Banten ini membutuhkan waktu waktu sekitar 24 jam. Gas yang sudah siap ini dimasukan ke dalam filling station, selanjutnya dibawa ke Peldam Tanjung Emas Semarang melalui pipa-pipa dan diangkut menggunakan truk tangki untuk disalurkan ke SPBE dan selanjutnya  dikemas dalam tabung 3 kg (Melon) , 5 kg (Bright Gas) dan tabung 12 Kg sebelum didistribusikan ke masyarakat.

Menyinggung soal kebocoran pipa yang bisa saja terjadi , menurut Irfan sangat kecil dan jarang ada pencurian LPG mengingat LPG ini mudah menguap. Namun Awak kapal tetap harus waspada, untuk itu PIS dalam bekerja juga melakukan kolaborasi dengan mitra kerja seperti dengan PT Pertamina Trans Kontinental (PTK). Kolaborasi dengan para mitra ini dilakukan demi kelancaran penyaluran Gas LPG ke pelosok negeri.

Direktur Pemasaran PTK, Imam Bustomi secara terpisah mengatakan untuk menjemput gas dari Tanjung Sekong ke Peldam Tanjung Emas Semarang, PTK akan melakukan pemeriksaan kelengkapan dokumen, kesehatan para awak dan lainnya. Begitu dokumen lengkap dan barang sudah sesuai dengan dokumen, PTK segera mengirim Kapal Gas Attaka berlayar ke Tanjung Sekong untuk mengambil LPG.

Setelah berlayar kurang lebih 24 jam Kapal Gas Attaka tidak bisa langsung merapat ke Peldam Tanjung Emas untuk melakukan bongkar buat. Untuk itu PTK menyiapkan kapal pandu dan kapal tunda yang berlayar sejauh 5 mil untuk membantu Kapal Gas Attaka menyalurkan muatan ke dalam pipa pipa yang sudah disiapkan untuk disalurkan ke tangka-tangki timbun di pelabuhan. Dari Tangki timbun inilah gas LPG diangkut menggunakan mobil – mobil tangki ke SPBE untuk dikemas dalam tabung berbagai ukuran dan disalurkan ke masyarakat.

Presisi -Chief Officer Kapal Gas Attaka Immanuel Pandiangan, saat memberikan penjelasan ke media, tentang pengangkutan LPG yang harus selalu dijaga temperaturnya agar tetap presisi. (ist/tya)

 

Kendala Cuaca 

Sementara itu Chief Officer Kapal Gas Attaka Immanuel Pandiangan, dalam pelayaran mengambil gas LPG ke Tanjung Sekong mengatakan Kapal Gas Attaka membawa 1.700 meter kubik yang terbagi dalam 2 tangki yang akan dibongkar di Peldam Tanjung Emas Semarang. Untuk menjaga ketepatan barang, temperatur LPG di dalam tangki tetap harus dijaga untuk menghindari kehilangan (losses) yang ditargetkan tidak boleh kurang dari 0.07 persen.

“Jadi kalau kita loading di Sekong 1.700 meter kubik, barang tidak boleh kurang atau lebih dari 0,07 persen. Hal ini dikarenakan LPG dari Vapour dan Liquid, sehingga harus dijaga presisinya dengan temperature, jangan sampai Liquid berubah menjadi vapour, karena bisa terjadi loss.” tutur Imanuel Pandiangan yang sudah bekerja kurang lebih 15 tahun di Kapal Gas Attaka.

Bekerja menjadi awak Kapal Gas Attaka memang banyak suka dukanya, hal ini dikarenanakan kondisi cuaca seringkali mempengaruhi perjalanan. Bila cuaca buruk tentunya kapal tidak bisa bersandar, bahkan para awak tidak bisa turun sebelum tugasnya selesai. Namun sampai saat ini Imanuel Pandiangan mengaku enjoy, sehingga kendala yang dialami dalam melakukan pendistribusian Gas LPG ke Jateng dapat diatasi, berkat kepiawaian para awak kapal.

“Masyarakat umum banyak yang tidak tahu proses perjalanan panjang yang melelahkan distribusi LPG sampai ke tangan masyarakat.  Meski demikian , kami tetap berkomitmen untuk menyalurkan energi  ke seluruh negeri, demi kemajuan ekonomi Indonesia,” jelas Imanuel  Pandiangan (Tri Sutristiyaningsih)

 

Gas Melon – Kemasan LPG 3 kg siap didistribusikan ke masyarakat.(ist/tya)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.