Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Di Balik Semangkuk Udon, Gas Bumi Buka Peluang Efisiensi bagi Usaha Kuliner

METROJATENG.COM, YOGYAKARTA – Di sebuah restoran, pelanggan mungkin hanya melihat semangkuk udon hangat yang tersaji di meja. Mi yang kenyal, kuah yang mengepul, dan pelayanan yang cepat menjadi bagian dari pengalaman bersantap. Namun, di balik hidangan itu, ada dapur yang terus bekerja dan membutuhkan pasokan energi agar setiap pesanan dapat disiapkan dengan baik.

Bagi pengelola restoran, menjaga dapur tetap beroperasi bukan sekadar urusan memasak. Ketersediaan energi, biaya operasional, serta perawatan peralatan menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari. Ketika jumlah pesanan meningkat, kebutuhan untuk menjaga seluruh proses tetap lancar semakin penting.

Di Marugame Udon Kaliurang, Yogyakarta, kebutuhan energi tersebut kini dipenuhi menggunakan Compressed Natural Gas (CNG), atau gas bumi terkompresi. Penggunaan energi ini menjadi pengalaman baru bagi pengusaha, pengelola outlet, sekaligus bagian dari upaya mencari alternatif energi untuk mendukung kegiatan usaha.

“Pemakaian CNG di outlet kami sudah berjalan sekitar dua bulan dan saat ini masih dalam tahap penyesuaian,” kata Supervisor Marugame Udon Kaliurang Yogyakarta, Dedi Sugianto.

Menurut Dedi, penggunaan CNG berawal dari rekomendasi kantor pusat. Meski masih beradaptasi dengan sistem baru, ia melihat karakter nyala api yang stabil dan berwarna lebih biru.

“Nyala apinya stabil dan lebih biru,” ujarnya.

Kebutuhan CNG di restoran tersebut mencapai sekitar 1.000 meter kubik per bulan, dengan pasokan dikirim menggunakan tujuh tabung. Bagi pengelola, kepastian pasokan menjadi bagian penting agar kegiatan dapur dapat berjalan sesuai kebutuhan pelayanan.

Namun, pengalaman menggunakan CNG tidak hanya berkaitan dengan gas yang tersedia. Dedi juga menyoroti dukungan layanan yang diberikan PT Gagas Energi Indonesia, penyedia layanan CNG bagi pelanggan usaha.

Dukungan Perawatan

“Dengan CNG, pemasangan dan perawatannya didukung Gagas, sehingga kami lebih mudah dalam penggunaannya,” kata Dedi.

Dukungan tersebut membantu pengelola dalam urusan teknis, mulai dari pemasangan hingga pemeliharaan peralatan. Bagi restoran yang harus menjaga kualitas hidangan sekaligus kecepatan pelayanan, kemudahan memperoleh dukungan teknis menjadi nilai tambah.

Sebab, gangguan pada peralatan atau pasokan energi berpotensi menghambat pekerjaan dapur. Dengan pemantauan kebutuhan gas, pemeriksaan berkala, dan layanan penanganan kendala, pengelola memiliki dukungan untuk menjaga sistem energi tetap berfungsi sesuai kebutuhan.

Dedi mengawai, awalnya ketika ada tawaran untuk berpindah ke energi lain yang lebih hemat, efisien dan bersih sempat ragu. Namun karena penjelasan dari PGN serta dukungan perawatan peralatan serta persetujuan  kantor pusat, penggunaan CNG akhirnya terlaksana.

“Awalnya takut, namun karena penggunaannya lebih aman, lebih hemat dari LPG, serta lebih bersih, kami memutuskan untuk menggunakan si api biru ini,” ujarnya.

Area Head Gagas Jawa Tengah Bagian Utara, Miranti Dyah Pramesti, mengatakan Marugame Udon Kaliurang merupakan pelanggan baru yang mendapat pendampingan sejak awal penggunaan CNG.

Layanan tersebut mencakup pemasangan dan penyesuaian peralatan, pemantauan pasokan, pengisian ulang, pembersihan, perawatan, serta pemeriksaan berkala. Gagas juga memantau kebutuhan pengisian sebelum persediaan gas habis dan merespons kendala yang muncul selama penggunaan.

PROSES PEMBELAJARAN – Teknisi CNG dari PGN tengah memberikan dukungan kepada pengelola Marugame Udan cara penggunaan dan perawatan dapur yang menggunakan CNG atau gas bumi dari PGN. (ist/redmetrojateng)

 

“Bagi pelaku usaha, layanan semacam ini menjadi bagian dari pertimbangan ketika memilih sumber energi. Bukan hanya harga bahan bakar, melainkan juga kemudahan penggunaan, kepastian pasokan, dan dukungan setelah pemasangan,” katanya.

Peluang Efisiensi Bagi UMKM Kuliner

Pengalaman Marugame Udon Kaliurang menjadi gambaran bagaimana gas bumi mulai dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan usaha kuliner. Potensinya tidak terbatas pada restoran besar. Warung makan, katering, hotel, kafe, hingga usaha kecil dan menengah juga membutuhkan energi yang tersedia secara berkelanjutan.

Area Head Semarang PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) Sugianto Eko Cahyono menyampaikan, PGN terus memperluas pemanfaatan gas bumi di Jawa Tengah melalui jaringan pipa maupun layanan di luar jaringan atau beyond pipeline. Menurut data jumlah pelanggan di Jawa Tengah mencapai 22.099, mencakup rumah tangga, industri, pelanggan komersial, serta usaha kecil dan menengah.

Pada periode 2024–2025, jumlah pelanggan di wilayah tersebut tumbuh sekitar 25 persen dibandingkan jumlah pelanggan sebelumnya. Pertumbuhan ini didukung kebutuhan energi dari berbagai kawasan industri, antara lain Kawasan Industri Kendal, Kawasan Industri Wijayakusuma, Kawasan Industri Candi, Kawasan Industri Terpadu Batang, dan kawasan industri di Demak.

“Bagi sektor usaha, salah satu daya tarik gas bumi adalah peluang menekan biaya energi. PGN menyebut pelaku usaha berpotensi menghemat biaya hingga 30 persen dibandingkan penggunaan bahan bakar gas lainnya,” katanya.

Besarnya penghematan yang benar-benar diperoleh tetap bergantung pada jenis bahan bakar pembanding, pola pemakaian, dan kebutuhan masing-masing usaha.

Selain potensi efisiensi biaya, pasokan gas bumi melalui jaringan pipa dapat digunakan secara berkelanjutan tanpa pelanggan harus mengatur penggantian tabung bahan bakar secara rutin. Sementara untuk pelanggan yang menggunakan CNG, pengelolaan persediaan dan jadwal pengisian tetap diperlukan agar pasokan tidak terputus.

Perbedaan cara penyaluran tersebut membuat pilihan layanan perlu disesuaikan dengan lokasi dan kebutuhan pelanggan. Pelaku usaha yang berada di dekat jaringan pipa dapat menjajaki sambungan gas, sedangkan pelanggan di luar jangkauan jaringan dapat mempertimbangkan solusi beyond pipeline, seperti GasLink berbasis CNG.

Tak harus menunggu jaringan pipa

Salah satu tantangan dalam memperluas pemanfaatan gas bumi adalah jaringan pipa yang belum menjangkau seluruh lokasi usaha. Pembangunan jaringan baru membutuhkan investasi, terutama apabila lokasi calon pelanggan jauh dari jaringan yang sudah tersedia.

Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, PGN mengembangkan pendekatan melalui jaringan pipa dan solusi di luar jaringan. Layanan CNG point-to-point memungkinkan gas dikirim menggunakan tabung khusus ke lokasi pelanggan. Skema ini membuka peluang bagi usaha yang belum dapat menikmati sambungan pipa untuk memanfaatkan gas bumi sesuai kebutuhan operasionalnya.

Di Jawa Tengah, PGN menyebut wilayah layanan dan pengembangannya mencakup Semarang, Sleman, Magelang, Kendal, Batang, Demak, dan Blora. Perusahaan juga memusatkan upaya perluasan dan akuisisi pelanggan di kawasan tengah Kota Semarang serta sejumlah kawasan industri di Semarang, Demak, Kendal, dan Batang.

Sektor hotel, restoran, dan kafe atau Horeka menjadi salah satu sasaran pemanfaatan gas bumi. PGN menyampaikan telah bekerja sama dengan pelaku Horeka di Semarang, Sleman, dan Yogyakarta, serta melayani sejumlah fasilitas seperti panti dan rumah sakit.

“Langkah tersebut penting karena kebutuhan energi setiap usaha tidak selalu sama. Restoran yang memasak sepanjang hari, usaha katering dengan jadwal produksi tertentu, dan warung berskala kecil memiliki pola pemakaian yang berbeda. Karena itu, pemetaan kebutuhan serta konsultasi teknis diperlukan sebelum menentukan layanan yang sesuai,” tambahnya.

Membuka akses bagi UMKM

Bagi UMKM, biaya awal pemasangan sering menjadi salah satu pertimbangan sebelum beralih ke sumber energi baru. PGN menjelaskan bahwa biaya sambungan baru bagi pelanggan usaha berbeda-beda, bergantung pada volume pemakaian dan panjang pipa yang dibutuhkan.

Meski belum menyediakan skema subsidi atau pembiayaan khusus untuk instalasi secara keseluruhan, PGN menyatakan biaya pemasangan pipa dari jaringan utama hingga meter gas di lokasi pelanggan ditanggung perusahaan. Mekanisme ini dapat membantu mengurangi beban biaya pada bagian sambungan tersebut, sementara kebutuhan instalasi lain tetap perlu dikonfirmasi berdasarkan kondisi lokasi dan ketentuan layanan.

PGN juga memiliki program gratis biaya pengaliran kembali bagi pelanggan rumah tangga dan pelanggan kecil UMKM yang pernah berhenti berlangganan dan ingin menggunakan gas bumi lagi. Berdasarkan informasi perusahaan, program tersebut dapat dimanfaatkan hingga akhir 2026.

Untuk memperluas jangkauan, PGN terus melakukan sosialisasi dan pendekatan kepada pelaku usaha. Kontinuitas pasokan, kemudahan penggunaan, efisiensi biaya, serta keselamatan menjadi sejumlah pertimbangan yang disampaikan kepada calon pelanggan.

Bagi usaha kuliner, keputusan menggunakan gas bumi pada akhirnya harus didasarkan pada kebutuhan nyata. Perbandingan biaya energi, volume pemakaian, ketersediaan layanan, dan kondisi lokasi menjadi dasar untuk menilai apakah sambungan pipa atau CNG merupakan pilihan yang tepat.

Di Marugame Udon Kaliurang, perjalanan menggunakan CNG masih berada pada tahap awal. Pengelola sedang membiasakan diri dengan sistem baru, sementara dukungan layanan membantu menjaga kebutuhan energi tetap terkelola. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa peralihan energi bukan hanya persoalan mengganti bahan bakar, melainkan juga memastikan sistem dan layanan pendukungnya sesuai dengan kegiatan usaha.

Pelanggan yang datang mungkin tidak pernah memikirkan bagaimana energi sampai ke dapur. Bagi mereka, yang terpenting adalah hidangan tersaji dengan baik dan pelayanan berjalan lancar. Namun, di balik pengalaman sederhana itu, ada kebutuhan operasional yang harus dikelola setiap hari.

Di sanalah gas bumi menemukan perannya: membantu menopang aktivitas dapur, membuka peluang efisiensi, dan memberi pilihan bagi usaha untuk memenuhi kebutuhan energinya. Bukan sekadar nyala api di balik pintu dapur, melainkan bagian dari upaya menjaga usaha tetap berjalan dan pelayanan kepada pelanggan terus terjaga. (tya)

Comments are closed.