Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

The People’s Cafe Hadirkan Menu Wiken dari Film Empat Musim Pertiwi, Persahabatan Kini Bisa Dicicipi

METROJATENG.COM, JAKARTA – Persahabatan tak hanya bisa dikenang lewat cerita di layar lebar, tetapi juga melalui rasa yang hadir di meja makan. Inilah yang ditawarkan The People’s Cafe (TPC) melalui Menu Wiken, hidangan yang terinspirasi dari persahabatan Pertiwi dan Niken dalam film Empat Musim Pertiwi.

Berkolaborasi dengan Forka Films, The People’s Cafe menghadirkan menu yang sebelumnya menjadi bagian dari cerita film ke dunia nyata. Penonton kini bisa mencicipi sajian yang lahir dari kedekatan dua sahabat tersebut, sekaligus merasakan pengalaman kuliner yang terhubung dengan kisah para tokohnya.

Menu Wiken memiliki cerita tersendiri. Nama tersebut merupakan gabungan dari nama Pertiwi dan Niken, dua sahabat yang menciptakan hidangan itu dalam cerita film. Sajian tersebut awalnya hadir di Warung Piring Terbang, tempat yang menjadi bagian dari keseharian para tokoh.

Kini, hidangan itu diwujudkan melalui Nasi Mie Wiken, perpaduan nasi dan mi goreng yang disajikan bersama telur barendo, keripik, serta kuah tongseng kaya rempah. Perpaduan bahan yang akrab di lidah masyarakat Indonesia ini menghadirkan kombinasi rasa dan tekstur yang berbeda dalam satu sajian.

Selain Nasi Mie Wiken, The People’s Cafe juga menghadirkan Ketoprak Mie Wiken. Menu ini memadukan ketoprak dengan mi goreng, telur barendo, tahu, bihun, dan tauge, kemudian disiram saus kacang khas TPC.

Kedua menu tersebut menawarkan pendekatan berbeda terhadap makanan sehari-hari. Bahan-bahan yang familier diolah menjadi sajian baru, sekaligus membawa cerita persahabatan dari layar bioskop ke pengalaman kuliner pelanggan.

President Director ISMAYA Group, Cendyarani, mengatakan kolaborasi tersebut menjadi cara The People’s Cafe menerjemahkan cerita film ke dalam pengalaman yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Kami ingin mengambil bagian dengan cara yang paling dekat dengan kami, yaitu melalui makanan. Nasi Mie Wiken yang hadir sebagai bagian dari cerita Pertiwi dan Niken di Warung Piring Terbang kini kami hadirkan secara nyata agar dapat dicicipi langsung oleh penonton,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (9/10/2026).

Menurut Cendyarani, kolaborasi ini juga menjadi kesempatan bagi The People’s Cafe untuk mengeksplorasi kreativitas kuliner. Melalui perpaduan menu yang tidak biasa, pihaknya ingin menghadirkan pilihan sajian yang menarik sekaligus dekat dengan selera masyarakat Indonesia.

Di dalam film Empat Musim Pertiwi, makanan bukan sekadar pelengkap adegan. Hidangan yang tersaji dalam keseharian para tokoh turut menggambarkan hubungan personal, kenangan, dan dukungan yang tumbuh di antara mereka, termasuk melalui sosok Mak Ira.

Produser Empat Musim Pertiwi, Ifa Isfansyah, mengatakan Menu Wiken memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar hidangan yang muncul dalam film. Menu tersebut merepresentasikan persahabatan Pertiwi dan Niken serta kedekatan mereka dengan Mak Ira.

“Jadi menyenangkan sekali ketika sesuatu yang awalnya hanya hidup di dalam cerita film sekarang bisa benar-benar dinikmati oleh penonton,” kata Ifa.

Ia menilai The People’s Cafe menjadi mitra yang tepat untuk mewujudkan menu tersebut. Kedekatan TPC dengan kuliner Indonesia yang familier, ditambah kreativitas dalam mengolah bahan makanan, dinilai mampu membawa hidangan dalam cerita film menjadi pengalaman nyata.

Kolaborasi ini sekaligus menunjukkan bagaimana dunia film dan kuliner dapat saling melengkapi. Film menghadirkan cerita dan emosi, sementara makanan memberikan pengalaman lain yang bisa dinikmati setelah penonton meninggalkan bioskop.

Untuk melengkapi pengalaman tersebut, The People’s Cafe menawarkan diskon 25 persen untuk Bundle Menu Wiken bagi pelanggan yang menunjukkan tiket bioskop Empat Musim Pertiwi.

Pelanggan dapat memilih dua paket, yakni Nasi Mie Wiken dengan Es Teh Pandan Selasih atau Ketoprak Mie Wiken dengan minuman yang sama.

Melalui Menu Wiken, The People’s Cafe dan Forka Films mengajak penonton menikmati cerita dengan cara berbeda. Persahabatan yang semula hadir melalui dialog, adegan, dan kenangan para tokoh kini dapat dirasakan melalui sajian di meja makan.

Sebab, sebuah cerita tidak selalu berakhir ketika layar bioskop menjadi gelap. Terkadang, cerita itu tetap hidup melalui rasa yang akrab, kenangan yang tertinggal, dan pengalaman sederhana yang dibagikan bersama orang-orang terdekat. (*)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.