Sriboga Pecahkan Rekor Leprid 2.727 Mangkok Mie Ayam
Tegaskan Komitmen Dukung UMKM Indonesia Naik Kelas
METROJATENG.COM, SEMARANG – PT Sriboga Flour Mill kembali menegaskan perannya dalam mendukung pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis pangan dengan memecahkan Rekor Leprid (Lembaga Prestast Indonesia Dunia) dengan 2.727 Mangkok Mie Ayam.
Pemecahan rekor ini merupakan penegasan komitmen Sriboga dalam mendukung UMKM melalui penyajian 2.727 mangkok mie ayam. Kegiatan ini digelar dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-27 Sriboga dan dikemas dalam festival kuliner rakyat yang melibatkan ribuan pelaku UMKM.
Presiden Direktur PT Sriboga Flour Mill, Naufal Arifin, mengatakan angka 2.727 dipilih sebagai simbol perjalanan 27 tahun perusahaan.
“Alhamdulillah, kami berhasil memecahkan rekor Leprid dengan penyajian mie ayam terbanyak. Ini bukan sekadar perayaan ulang tahun, tetapi wujud komitmen kami untuk terus mendukung UMKM, khususnya pedagang mie ayam yang menjadi bagian penting ekonomi rakyat,” ujar Naufal.
menurut naufal dalam pemecahan rekor tersebut, Sriboga menghabiskan sekitar 250 kilogram tepung terigu sebagai bahan baku utama. Sebagai produsen tepung terigu nasional, Sriboga merupakan salah satu pemasok terbesar untuk produk mie di Indonesia.
Naufal menyebut mie, khususnya mie ayam, menjadi salah satu olahan tepung terigu paling populer, terutama di Pulau Jawa, dengan pangsa pasar lebih dari 50 persen.

“Selama 27 tahun, Sriboga tumbuh bersama UMKM. Mie ayam adalah makanan rakyat yang diterima semua kalangan. Karena itu, kami ingin memastikan pelaku usaha mendapat bahan baku yang tepat dan berkualitas agar usahanya terus berkembang,” tambahnya.
Secara nasional, industri tepung terigu memiliki peran strategis dalam menopang ketahanan pangan dan ekonomi. Saat ini, Indonesia memiliki sekitar 30 pabrik tepung terigu dengan kapasitas produksi terpasang mencapai sekitar 14–15 juta ton per tahun. Sedangkan kebutuhan tepung terigu di Indonesia mencapai 7-8 juta ton pertahun.
“Khusus Sriboga kapastas pabrik saat ini sekitar 1.800 juta ton per tahun,” kata Naufal.
Kebutuhan tepung terigu nasional sebagian besar dipenuhi oleh produksi dalam negeri, meskipun bahan baku gandum masih harus diimpor dari beberapa negara seperti Thailand dan lainta.. Tingginya kebutuhan tersebut didorong oleh konsumsi mie, roti, dan aneka produk pangan berbasis tepung yang menjadi tulang punggung UMKM.
Pemecahan rekor Leprid kali ini melibatkan paguyuban koperasi UMKM kuliner di Semarang yang bergerak di sektor industri boga. Selain penyajian mie ayam, acara juga diramaikan dengan stan UMKM, lomba memasak, kompetisi keluarga, demo masak rutin di Customer Center Sriboga, hingga hiburan musik.
Festival berlangsung selama dua hari. Hari pertama diisi berbagai kompetisi dan aktivitas keluarga, sementara hari kedua dimulai dengan Sriboga Run, final lomba masak ibu-ibu PKK, serta ditutup dengan hiburan musik.
Sriboga juga secara konsisten melakukan pembinaan UMKM. Hingga kini, perusahaan telah membina lebih dari 3.000 UMKM dari berbagai sektor usaha berbasis tepung terigu, seperti mie, roti, bakpia, lumpia, dan aneka kue.
Ditambahkan Fadjar Sofyar, Comercial Director Sribiga, sebagai bagian dari program keberlanjutan, Sriboga turut memberikan beasiswa kepada 125 anak pelaku UMKM binaan hingga lulus pendidikan S1. Sebagian penerima beasiswa tersebut kini telah membuka usaha sendiri dan ikut menggerakkan ekonomi di lingkungannya.
“Dengan tingkat konsumsi mie masyarakat yang mencapai 51–60 persen, kami melihat peluang besar bagi UMKM untuk terus tumbuh,” jelas Naufal.
Ke depan, Sriboga akan terus menghadirkan inovasi produk tepung terigu yang disesuaikan dengan kebutuhan aplikasi, mulai dari mie, roti, gorengan, hingga kue.
“Kami ingin masyarakat dan pelaku usaha semakin tepat menggunakan terigu sesuai kebutuhannya. Dengan begitu, UMKM bisa naik kelas dan ekonomi rakyat terus bergerak,” pungkas Naufal Arifin. (*)
Comments are closed.