Jaga Kesehatan, Jaga Finansial: Kisah Kartika dan Peran OJK Dorong Masyarakat Melek Asuransi
METROJATENG.COM, PURWOKERTO – Tak ada satu pun orang yang ingin menghadapi vonis kanker, apalagi harus berurusan dengan biaya pengobatan yang dapat mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah. Namun pengalaman itulah yang pernah dialami Kartika Widjaya (67), seorang perempuan yang kini tetap aktif, sehat, dan memilih membagikan kisahnya demi memberikan edukasi kepada masyarakat.
Bagi Kartika, warga Kecamatan Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas ini, vonis kanker yang ia terima pada usia 46 tahun menjadi titik balik hidupnya. “Vonis kanker itu menjadi pelajaran yang sangat berharga, tidak hanya spiritual, tetapi juga finansial. Karena itu saya terus mengedukasi masyarakat agar tidak mengalami hal yang pernah saya alami,” ungkapnya.
Kartika awalnya hanya merasakan sakit kepala dan batuk berkepanjangan. Setelah menjalani pemeriksaan, dokter menemukan hatinya membengkak dan kadar leukositnya mencapai 125.000—jauh di atas batas normal 4.000–10.000. Ia divonis menderita chronic myeloid leukemia dan dirujuk ke Jakarta.
Selama dua minggu Kartika menjalani kemoterapi harian, namun hasilnya belum memuaskan. Pemeriksaan lanjutan menunjukkan perlunya pengobatan di Hongkong. Rasa khawatir muncul, terutama soal biaya yang diperkirakan mencapai Rp1 miliar, belum termasuk perjalanan dan biaya hidup.
“Asuransi yang saya punya waktu itu tidak menanggung penyakit saya. Saya juga tidak mau memakai uang perusahaan karena ada 160 karyawan yang menggantungkan hidupnya. Akhirnya saya gadaikan rumah dan berangkat ke Hongkong bermodal Rp1,5 miliar,” kenangnya.
Setelah menjalani kemo oral di Hongkong, leukosit Kartika menurun hingga 65.000 dalam 3 minggu. Merespon positif terhadap pengobatan, ia kemudian diizinkan melanjutkan terapi di Singapura yang lebih dekat dengan Indonesia.
Pengalaman itulah yang menjadi landasan perubahan hidupnya. Kartika kini aktif mengedukasi masyarakat soal pentingnya perlindungan asuransi kesehatan. Menurutnya, ketika seseorang sakit, apalagi penyakit kritis yang tidak dicover BPJS Kesehatan, bukan hanya kesehatan yang terancam, tetapi seluruh aset keluarga bisa ikut habis.
“Asuransi itu kebutuhan fundamental. BPJS Kesehatan memang ada sebagai jaminan sosial, tapi tidak semua penyakit ditanggung. Karena itu penting untuk memiliki asuransi swasta sebagai pelengkap,” ujarnya.
Peran OJK dalam Melindungi Nasabah
Kartika juga mengapresiasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Purwokerto yang dinilainya sangat membantu masyarakat memilih produk asuransi yang aman dan sesuai.
“OJK membuat aturan agar informasi yang diterima nasabah sesuai dengan yang diakadkan, sehingga agen tidak bisa berbohong. Agen juga wajib bersertifikat,” jelasnya.
Ia menambahkan, nasabah yang mengalami masalah dengan perusahaan asuransi dapat mengadu ke OJK dan berpotensi dimediasi.
Kepala OJK Purwokerto, Haramain Billady, menegaskan bahwa kehidupan tidak lepas dari risiko, baik kesehatan, kehilangan aset, bencana, maupun risiko lainnya. Tanpa pengelolaan keuangan dan perlindungan asuransi yang memadai, kondisi-kondisi tersebut dapat mengganggu stabilitas keuangan keluarga.
Kisah Kartika menjadi lebih dari sekadar perjalanan melawan kanker, ini adalah pengingat bahwa hidup tidak pernah menyediakan waktu untuk bersiap, tetapi kitalah yang harus menyiapkan diri. Ia selamat bukan hanya karena pengobatan, tetapi karena keberanian, perencanaan, dan keinginannya menjaga masa depan orang-orang yang ia sayangi.
“Jangan tunggu sakit datang untuk menyadari betapa berharganya kesehatan dan betapa rapuhnya kondisi finansial tanpa perlindungan,” pesannya.
Comments are closed.