Produksi Melonjak, Indonesia Selangkah Lagi Capai Swasembada Beras 2025, Komoditas Lain Masih Tertinggal
METROJATENG.COM, SEMARANG — Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Jawa Tengah I, Muhamad Haris, menyatakan Indonesia berada di jalur yang tepat untuk mencapai swasembada beras pada akhir 2025. Pernyataan tersebut disampaikan setelah melihat proyeksi produksi yang diperkirakan melampaui kebutuhan nasional.
Berdasarkan prediksi Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional tahun depan mencapai sekitar 34,7 juta ton, sedangkan kebutuhan konsumsi hanya sekitar 33 juta ton.
“Artinya, produksi beras kita lebih dari cukup,” ujarnya.
Haris menegaskan, kondisi stok beras saat ini sangat terjamin. Bulog disebut menyimpan 4,1 juta ton beras, jumlah yang dinilai cukup untuk menstabilkan pasokan hingga awal tahun mendatang.
Ia juga mengklarifikasi isu terkait impor ilegal. Menurutnya, impor hanya dilakukan secara khusus di wilayah Sabang, sesuai aturan kekhususan daerah,
“Tidak ada impor ilegal di provinsi lain,” tegasnya.
Meski beras menunjukkan perkembangan positif, Haris mengingatkan bahwa komoditas lain masih jauh dari target swasembada. Jagung diperkirakan mulai stabil pada 2026, sementara kedelai, gula, dan garam masih memiliki tantangan produksi.
“Lahan-lahan tertentu tidak bisa ditanami jagung terus-menerus, sehingga produksinya belum konsisten,” kata dia.
Selain itu Haris juga menyoroti rendahnya konsumsi ikan di Jawa Tengah, terutama di wilayah non-pesisir seperti Solo dan Sukoharjo.
“Di pantai kebiasaan makan ikan tinggi. Tapi di wilayah tengah hingga selatan, masyarakat lebih terbiasa mengonsumsi tahu-tempe,” ungkapnya.
Komisi IV DPR telah membahas kampanye peningkatan konsumsi ikan, serta menilai program makan bergizi gratis dapat menjadi momentum untuk mendorong masyarakat mengonsumsi protein dari laut.
Menurutnya protein dari ikan laut sangat tinggi. Untuk itu gerakan makan ikan akan terus digencarkan.
Menyinggung kenaikan harga daging ayam dan telur yang saat ini masih tinggi, menurutnya sesuai dengan kondisi oasar. Jika permintaan tinggi dan barang tidak banyak karena pada tahun baru banyak toko yang tutup, tentunya harga akan tinggi.
Haris juga mengingatkan, pembangunan pabrik pakan ternak harus dibarengi aturan ketat agar tidak terjadi monopoli oleh perusahaan besar. Menurutnya, peternak kecil harus terus diberdayakan agar mampu menjaga suplai telur dan daging nasional.
“Jika permintaan tinggi dan stok terbatas, harga pasti naik. Karena itu, peran peternak kecil tidak boleh terpinggirkan,” tutupnya. (*)
Comments are closed.