Jawa Tengah Cetak Rekor Investasi, Serap Ratusan Ribu Tenaga Kerja dalam Enam Bulan
METROJATENG.COM, SEMARANG – Jawa Tengah kembali menunjukkan taringnya sebagai daerah favorit investor di Pulau Jawa. Selama enam bulan pertama tahun 2025, provinsi ini sukses mengantongi investasi senilai Rp45,58 triliun, atau setara 58,19 persen dari target tahunan. Tak hanya angka yang mengesankan, investasi tersebut juga membuka lapangan kerja bagi lebih dari 222 ribu orang, tertinggi dibanding provinsi lain di Jawa.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jateng, Sakina Rosellasari, mengungkapkan bahwa tren positif ini terus meningkat dari waktu ke waktu.
“Alhamdulillah, ini capaian tertinggi kami sejauh ini. Dari triwulan ke triwulan selalu naik, menunjukkan bahwa Jawa Tengah tetap menjadi magnet investasi,” terangnya.
Dari total Rp45,58 triliun tersebut, investor asing masih mendominasi dengan kontribusi sebesar Rp25,63 triliun atau 56 persen. Sementara penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp19,95 triliun. Total proyek yang lahir dari gelontoran modal ini mencapai 59.100 unit, dan mencerminkan geliat ekonomi yang semakin bergairah.
Tak kalah menarik, investasi skala UMK (Usaha Mikro dan Kecil) pun menunjukkan tajinya, dengan nilai mencapai lebih dari Rp10 triliun, angka fantastis yang menunjukkan bahwa geliat ekonomi kerakyatan turut bergerak naik.
Daerah Favorit dan Negara Asal Investor
Demak menempati posisi teratas sebagai tujuan investasi asing (PMA), disusul Kendal, Semarang, Batang, dan Pemalang. Sementara untuk PMDN, Kota Semarang menjadi primadona, diikuti Blora, Kendal, Banyumas, dan Tegal.
Lima negara terbesar yang menanamkan modal di Jawa Tengah antara lain:
-
Singapura – Rp5,87 triliun
-
Tiongkok – Rp5,42 triliun
-
Hongkong – Rp4,46 triliun
-
Korea Selatan – Rp3,39 triliun
-
Samoa Barat – Rp0,83 triliun
Jika bicara tentang lapangan pekerjaan, Jawa Tengah memimpin dibanding semua provinsi di Pulau Jawa. Total 222.373 orang berhasil diserap oleh proyek-proyek investasi sepanjang semester I 2025.
Menurut Sakina, tingginya penyerapan tenaga kerja ini menunjukkan bahwa sebagian besar investasi yang masuk adalah dari sektor padat karya, yang memang menyerap banyak tenaga manusia.
“Inilah kekuatan Jawa Tengah. Mungkin nilai investasinya tidak setinggi Jawa Barat atau DKI, tapi dampaknya langsung terasa untuk masyarakat melalui lapangan kerja,” pungkasnya.
Comments are closed.