30 Tahun Bertahan dan Bertumbuh, Atlanta Elektronik Gaspol Perkuat Pasar Ritel
METROJATENG.COM, SEMARANG — Perubahan perilaku konsumen dan persaingan industri elektronik yang semakin ketat tak menyurutkan langkah Atlanta Elektronik untuk terus berekspansi. Setelah melewati perjalanan bisnis selama 30 tahun tahun, Atlanta kini memperkuat sektor ritel dengan meresmikan Re- toko Atlanta Elektronik di kawasan Mataram, Semarang.
Didukung 14 brand merek terkenal seperti Samsung, Polytron, LG, Akari, Changhong, Sharp, Artugo, Modena, Haier, Daikin, Midea, Niko, Sony, dan TCL pe mbukaan toko tersebut menjadi babak baru bagi Atlanta Elektronik untuk semakin dekat dengan konsumen. Strategi ini sekaligus menjadi jawaban atas perubahan pola perdagangan elektronik yang kini tidak lagi hanya mengandalkan jaringan grosir.
Direktur Atlanta Elektronik, Santoso Kurniadi, mengatakan tantangan bisnis elektronik saat ini jauh berbeda dibandingkan masa lalu. Fluktuasi harga yang terjadi cukup cepat menjadi salah satu persoalan yang harus dihadapi pelaku usaha.
“Harga sekarang sering naik, kemudian naik lagi. Kondisi seperti ini membuat kami harus berpikir bagaimana menyikapinya,” kata Santoso.
Ia mengenang kondisi industri elektronik pada era 1970-an. Ketika itu, televisi masih menjadi barang yang sangat diminati masyarakat. Bahkan, permintaan disebut jauh lebih besar dibandingkan ketersediaan barang.
Situasi tersebut membuat pedagang yang mampu menyediakan stok dalam jumlah besar memiliki peluang lebih besar memenangkan pasar.
Namun, kondisi tersebut kini telah berubah. Produk elektronik semakin beragam, teknologi berkembang pesat dan konsumen memiliki banyak pilihan. Kehadiran perdagangan digital juga membuat konsumen dapat membandingkan produk serta harga dengan lebih mudah.

“Kalau dulu permintaan sangat besar, sekarang kita tidak bisa hanya mengambil barang sebanyak-banyaknya. Permintaannya sudah berbeda,” ujarnya.
Perubahan itu membuat Atlanta Elektronik mulai mengubah strategi bisnis. Jika sebelumnya lebih banyak mengandalkan penjualan grosir, kini perusahaan memperkuat jaringan toko ritel agar dapat menjangkau konsumen secara langsung.
Santoso menyebut pola tersebut mirip dengan jaringan minimarket yang membuka gerai di berbagai lokasi sehingga konsumen lebih mudah mendapatkan produk yang dibutuhkan.
“Ke depan kami ingin lebih fokus ke ritel. Setiap lokasi diharapkan bisa memiliki outlet, sehingga konsumen tidak perlu jauh-jauh mencari produk,” katanya.
Bukan Sekadar Jual Barang
Menurut Santoso, persaingan toko elektronik saat ini bukan hanya terjadi antar-toko fisik. Peritel juga harus berhadapan dengan platform online yang menawarkan kemudahan dan pilihan produk dalam jumlah besar.
Karena itu, Atlanta Elektronik memilih memperkuat keunggulan yang sulit diberikan oleh perdagangan online, yakni pelayanan langsung dan tanggung jawab setelah transaksi.
Ia mengatakan konsumen yang datang ke toko pada dasarnya mencari tiga hal, yakni produk yang sesuai kebutuhan, harga yang kompetitif, dan kepastian layanan apabila terjadi persoalan setelah pembelian.
“Kalau barang rusak, konsumen tentu mencari siapa yang bertanggung jawab. Di situlah toko fisik harus hadir,” ujarnya.
Bagi Atlanta Elektronik, kepercayaan konsumen menjadi modal penting untuk menjaga keberlangsungan usaha.
“Kalau ada barang rusak, kami bantu. Konsumen kembali, kami layani. Dari situ kepercayaan dibangun,” kata Santoso.
Dukungan Produsen
Langkah ekspansi Atlanta Elektronik mendapat apresiasi dari sejumlah produsen elektronik yang hadir dalam pembukaan toko tersebut.
Direktur PT Hartono Istana Teknologi (Polytron), Tekno Wibowo, mengatakan pembukaan toko baru menjadi langkah positif untuk mendekatkan merek dan produk kepada konsumen.
“Ini merupakan langkah baru, dengan konsentrasi lebih besar ke retail agar semakin dekat dengan konsumen,” ujarnya.
Tekno menambahkan, Polytron akan terus menghadirkan beragam produk elektronik dan peralatan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia.
Hal senada disampaikan CEO Akari Indonesia, Kanny Kwe. Menurutnya, kelengkapan produk harus dibarengi dengan kemudahan konsumen dalam memperoleh produk maupun layanan.
“Jadi bukan hanya produknya yang lengkap, tetapi bagaimana mendapatkan produk itu dengan mudah,” katanya.
Sementara Sales Director LG Electronics Indonesia, Erwan Shang, mengapresiasi perjalanan panjang Atlanta Elektronik yang mampu bertahan sekaligus berkembang di tengah perubahan industri.
Menurut dia, keberhasilan sebuah toko elektronik bertahan selama puluhan tahun menunjukkan adanya kemampuan membaca pasar dan menjaga hubungan dengan konsumen.
“Industri elektronik sudah berkembang selama 25 sampai 30 tahun. Toko yang mampu bertahan dan terus tumbuh selama itu tentu memiliki kekuatan tersendiri,” ujarnya.
Di sisi lain, Senior GM National Sales & Marketing Sharp Electronics Indonesia, Andry Adi Utomo, mengingatkan bahwa industri elektronik masih menghadapi sejumlah tantangan.

Selain harga yang bergerak dinamis, ketersediaan stok dan perubahan regulasi, termasuk penerapan ketentuan SNI, menjadi faktor yang harus diperhatikan pelaku usaha.
“Ini tantangan untuk kita semua. Ke depan bagaimana menyikapinya, kita harus berada dalam mode survival,” katanya.
Namun, Andry menilai tantangan tersebut justru mendorong pelaku industri untuk semakin adaptif terhadap perubahan.
“Bisnis sekarang tidak seperti 30 tahun lalu. Tantangannya lebih besar, sehingga kita harus bisa beradaptasi dengan lingkungan,” ujarnya.
Produsen elektronik dalam negeri PT Kreasi Arduo Indonesia (Artugo) terus memperkuat penetrasi pasar nasional, termasuk di Kota Semarang dan Jawa Tengah dan melakukan kerjasama dengan Atlanta Elektronik sejak tahun 2020. Strategi tersebut dilakukan dengan memperbanyak pilihan produk dan menghadirkan berbagai varian yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.
Chief Executive Officer (CEO) PT Kreasi Arduo Indonesia (Artugo) mengatakan, kontribusi pasar Semarang terhadap penjualan perusahaan sangat besar. Di Atlanta Elektronik Artugo menyediakan berbagai produk terutama kompor batu dan ferzer yang sangat diminati.
Optimisme terhadap perkembangan teknologi juga disampaikan Retail Head Director PT Samsung Electronics Indonesia, Praryadi Slamet. Menurutnya, perkembangan teknologi, termasuk artificial intelligence (AI), akan semakin memengaruhi industri elektronik dan menciptakan berbagai peluang baru.
Sementara Managing Director Niko Electronics Indonesia, Siswo Handiyono, menilai kehadiran Atlanta Elektronik memberikan ruang bagi merek lokal untuk tumbuh dan bersaing bersama merek-merek elektronik besar.
Niko sendiri menghadirkan sejumlah produk rumah tangga seperti kompor kaca, water heater dan berbagai perangkat lainnya.
“Brand lokal juga harus hadir dan bisa tampil bersama merek-merek besar. Kami berterima kasih kepada Atlanta yang memberikan kesempatan tersebut,” ujarnya.
Bagi Atlanta Elektronik, pembukaan re- toko di Mataram bukan sekadar penambahan gerai. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga eksistensi sekaligus menjawab perubahan cara masyarakat berbelanja elektronik.
Dengan menggabungkan harga kompetitif, kelengkapan produk dan layanan purnajual, Atlanta optimistis dapat terus bertumbuh di tengah persaingan pasar.
“Kami mengikuti tren dan harga yang bersaing. Kami ingin membuat kondisi yang tidak stabil menjadi lebih stabil melalui pelayanan. Kami beri bukti, bukan janji,” tegas Santoso. (*)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.