Magang Kerja Jepang Jadi Jalan Penguatan SDM Jawa Tengah, Setya Arinugroho Dorong Program Diperluas
METROJATENG.COM, SEMARANG – Program magang kerja ke Jepang semakin diminati generasi muda Jawa Tengah. Tingginya antusiasme tersebut dinilai menjadi peluang strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) sekaligus membuka akses pengalaman kerja internasional bagi masyarakat.
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Setya Arinugroho, menilai program pemagangan ke Jepang tidak semestinya hanya dipandang sebagai kesempatan bekerja di luar negeri. Lebih dari itu, program tersebut dapat menjadi investasi jangka panjang untuk mencetak tenaga kerja Jawa Tengah yang memiliki kompetensi, kedisiplinan, serta daya saing global.
“Program magang kerja di Jepang punya tren peminat yang terus meningkat tiap tahunnya. Sekarang, PR kita bersama adalah pengelolaan program secara berkelanjutan untuk membentuk ekosistem yang baik. Kita harus mengupayakan semua memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan diri,” katanya.
Data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Tengah menunjukkan tingginya minat tersebut. Pada 2026, tercatat 508 orang mendaftar program pemagangan ke Jepang. Dari jumlah itu, sebanyak 401 peserta telah mengikuti seleksi tingkat provinsi.
Peserta yang lolos selanjutnya akan menghadapi seleksi tingkat nasional yang melibatkan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) bersama International Manpower Development Organization (IM Japan), mitra resmi Kemnaker dalam pelaksanaan program pemagangan di Jepang.

Peluang Membangun SDM Jawa Tengah Berdaya Saing
SetyaAri menilai, tingginya minat generasi muda Jawa Tengah perlu diikuti dengan tata kelola program yang semakin baik. Pemerintah, menurut dia, perlu memastikan kesempatan mengikuti program magang dapat diakses secara luas dan merata.
Menurutnya, semakin banyak anak muda yang memperoleh pengalaman kerja internasional, semakin besar pula peluang Jawa Tengah memiliki SDM dengan kemampuan dan wawasan yang lebih luas.
Program magang ke Jepang juga menjadi kesempatan untuk mengenalkan peserta pada budaya kerja yang dikenal menjunjung tinggi kedisiplinan, tanggung jawab, ketepatan waktu, serta sikap saling menghormati.
Karakter tersebut dinilai penting untuk membangun tenaga kerja yang tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga mempunyai etos kerja dan integritas.
Jawa Tengah sendiri menjadi salah satu daerah yang banyak dilirik dalam program pemagangan Jepang. Antusiasme anak muda serta karakter pekerja yang energik menjadi modal penting dalam memenuhi kebutuhan dunia industri.
Namun, Ia mengingatkan peserta agar tidak berhenti pada pengalaman bekerja di Jepang. Pengetahuan dan budaya kerja yang diperoleh selama pemagangan diharapkan dapat dibawa pulang dan memberikan manfaat bagi pembangunan daerah.
“Magang kerja di Jepang itu termasuk pencapaian yang tinggi. Peserta harus melewati berbagai seleksi untuk lolos. Jadi, penting untuk menjaga integritas selama magang. Kita harus melihat program ini sebagai peluang untuk mengembangkan industri lokal, bukan hanya sarana menghasilkan uang,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan program magang kerja Jepang tidak cukup diukur dari jumlah peserta yang diberangkatkan. Dampak setelah peserta kembali ke Indonesia juga menjadi bagian penting yang harus diperhatikan.
Para alumni diharapkan mampu membawa pulang keterampilan, pengalaman, kedisiplinan, serta pengetahuan mengenai sistem kerja yang diperoleh selama berada di Jepang. Bekal tersebut kemudian dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan sektor industri dan dunia usaha di Jawa Tengah.
Dengan demikian, program magang tidak berhenti sebagai pengalaman individu, tetapi dapat memberikan efek berantai terhadap peningkatan kualitas tenaga kerja dan produktivitas industri daerah.
Setya Ari pun mendorong agar pemerintah terus membangun ekosistem yang mendukung peserta sejak proses seleksi, pelatihan, keberangkatan, selama berada di Jepang, hingga setelah mereka kembali ke tanah air.
Selain memperluas akses, aspek perlindungan peserta juga menjadi perhatian. Setya menegaskan, pemerintah memiliki tanggung jawab memastikan pekerja magang mendapatkan perlindungan yang memadai sejak tahap persiapan hingga program berakhir.
Menurutnya, peserta magang merupakan aset penting bagi masa depan Jawa Tengah. Karena itu, pendampingan dan perlindungan tidak boleh hanya menjadi pelengkap dalam program.
“Kita juga memiliki peran untuk memberikan perlindungan yang memadai dan terbaik bagi para pekerja. Mereka adalah aset. Dan mereka memiliki potensi sangat besar bagi industri di masa depan,” tegasnya.
Ia berharap alumni program magang kerja Jepang nantinya mampu menjadi generasi muda dengan kompetensi dan karakter unggul. Pengalaman internasional yang mereka dapatkan diharapkan memperkuat daya saing tenaga kerja Jawa Tengah di tengah persaingan global. (**)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.