Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Stres Finansial Karyawan adalah Risiko Perusahaan

*Oleh : Paloma Paramita, S.Psi., M.M., M.Psi., Psikolog/Kepala Klinik Layanan Psikologi SAHABAT RS Islam Sultan Agung, Pengurus Asosiasi Psikologi Industri Jawa Tengah

METROJATENG.COM, SEMARANG- Fokus terhadap kesehatan mental karyawan mulai bergeser dari penanganan (intervensi) responsif seperti konseling pasca krisis menjadi intervensi yang lebih adaptif dengan perubahan eksternal seperti aspek ekonomi. Alih-alih menyusun program penanganan pasca insiden, perusahaan perlu menyelaraskan desain well-being dengan perkembangan eksternal yang berpengaruh pada perilaku kerja karyawan.

Tidak bisa dipungkiri, kondisi ekonomi makro saat ini membawa tantangan dan kesulitan bagi sebagian karyawan di Indonesia. Saat karyawan segmen kelas menengah mengalami downward mobility diikuti dengan penurunan daya beli, tidak hanya berdampak pada urusan internal rumah tangga. Situasi ini dapat memicu kecemasan yang dapat memengaruhi kapasitas kognitif pekerja yang berujung pada burnout hingga penurunan produktivitas dan turnover.

Di Indonesia, terdapat lebih dari 142 juta kelompok kelas menengah dan 72% pekerja profesional mengaku produktivitas mereka terganggu terhadap kondisi finansial yang dialami (Survei FINETIKS, April 2026). Situasi ini dapat memicu presenteeism, kondisi saat karyawan hadir secara fisik untuk bekerja namun mengalami tekanan mental dan distraksi oleh masalah keuangan yang memengaruhi perilaku kerja.

Psychological Capital (PsyCap) atau modal psikologis karyawan bertumpu pada empat pilar, yaitu Harapan, Efikasi Diri, Resiliensi dan Optimisme (HERO). Stres finansial secara berkelanjutan dapat memicu kecemasan.

Sebagai contoh, saat karyawan berburu dengan ketersediaan dana/finansial dan tenggat waktu cicilan, dari pandangan neuropsikologi terapan hal ini akan menggerus “bandwith” kognitif seseorang.

Saat karyawan berada dalam kondisi kewaspadaan tinggi terkait uang (hiperarousal), sirkuit otak yang mengatur fungsi eksekutif (executive function)-seperti analisis pemecahan masalah atau pengambilan keputusan secara cepat dan tepat-menjadi sangat terbatas. Kondisi kecemasaran ini secara perlahan dapat mengikis PsyCap, hal ini ditegaskan melalui penelitian yang dilakukan oleh Pratama, A., & Widiastuti, R., (2025) bahwa kecemasan finansial berkorelasi negatif terhadap keempat pilar PsyCap.

 

Menyadari bahwa isu penurunan produktivitas dapat disebabkan oleh aspek finansial dan kondisi ekonomi saat ini, perusahaan perlu mengintegrasikan program literasi keuangan ke dalam pengembangan organisasi dan strategi retensi. Bentuk intervensi yang revelan dengan kondisi yang dialami karyawan menjadi efektif bila dirancang melalui kolaborasi lintas disiplin maupun lintas sektoral.

Melalui intervesi psikologi preventif seperti manajemen utang, edukasi menghindari impulsive buying dan perencanaan keuangan bagi keluarga dapat menjadi alternatif dalam merancang employee assistance program (EAP). Handayani, S., et al. (2026) menyoroti urgensi evolusi layanan EAP dari sekadar konseling klinis menjadi pendampingan kesejahteraan finansial untuk meminimalisasi kerugian produktivitas perusahaan.

Sebagai contoh, sinergi institusi perbankan dengan asosiasi praktisi psikologi melalui rancangan program literasi keuangan dan modifikasi EAP dapat menjadi ekosistem yang menjaga agar modal psikologis karyawan khususnya kapasitas kognitif tetap “sehat” dan produktif sehingga siap menghadapi dinamika industri saat ini.(**)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.