Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Telkom Awali 2026 dengan Kinerja Positif, Transformasi TLKM 30 Mulai Tunjukkan Hasil

Bukukan Pendapatan Konsolidasi Rp37,2 Triliun

 

METROJATENG.COM, JAKARTA – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk membuka tahun 2026 dengan kinerja yang solid di tengah tantangan ekonomi global dan dinamika industri telekomunikasi. Melalui percepatan transformasi bisnis TLKM 30 dan disiplin operasional yang konsisten, perusahaan berhasil membukukan pendapatan konsolidasi Rp37,2 triliun pada kuartal pertama 2026 atau tumbuh 1,5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Tak hanya mencatat pertumbuhan pendapatan, Telkom juga mampu menjaga ketahanan bisnis dengan membukukan EBITDA Rp18 triliun dan arus kas operasional yang meningkat 3,1 persen menjadi Rp17,3 triliun. Capaian tersebut ditopang oleh efisiensi biaya, optimalisasi investasi, serta peningkatan kualitas layanan di berbagai lini bisnis.

Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menegaskan bahwa hasil kuartal pertama menjadi fondasi penting bagi percepatan transformasi perusahaan ke depan.

“Tahun ini kami semakin agresif mengeksekusi strategi TLKM 30 untuk menciptakan nilai yang lebih optimal dan memperkuat keberlanjutan bisnis. Kinerja awal tahun ini menjadi motivasi bagi TelkomGroup untuk terus melakukan perbaikan dan memberikan kontribusi terbaik bagi pelanggan, masyarakat, dan negara,” ujarnya.

Bisnis Konsumer Tetap Menjadi Mesin Pertumbuhan

Kontributor terbesar pendapatan Telkom masih berasal dari segmen konsumer. Melalui Telkomsel, perusahaan mencatat pendapatan sebesar Rp27,6 triliun atau tumbuh 1,3 persen secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut didorong meningkatnya konsumsi layanan digital dan data pelanggan. Trafik data naik 2,3 persen, sementara rata-rata pendapatan per pelanggan (ARPU) melonjak 6,4 persen menjadi Rp45.100. Kenaikan ARPU mencerminkan semakin sehatnya kondisi industri telekomunikasi setelah penerapan strategi disiplin harga dan penyederhanaan produk.

Menurut Dian, kebutuhan masyarakat terhadap layanan internet dan konektivitas masih terus meningkat sehingga memberikan ruang pertumbuhan yang besar bagi industri telekomunikasi.

Infrastruktur B2B Jadi Motor Baru Pertumbuhan

Selain bisnis konsumer, transformasi Telkom juga mulai membuahkan hasil pada segmen B2B Infrastructure yang mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 6,8 persen menjadi Rp2,4 triliun.

Kinerja positif tersebut ditopang ekspansi bisnis Fiber-to-the-Tower (FTTT) yang dijalankan Mitratel. Hingga kuartal pertama 2026, Mitratel menambah jaringan fiber optik sepanjang 1.080 kilometer sehingga total aset fiber yang dimiliki mencapai 58.279 kilometer.

Ekspansi ini memperkuat posisi Mitratel sebagai perusahaan menara telekomunikasi generasi baru yang terintegrasi dengan infrastruktur fiber optic.

Di sisi lain, bisnis data center juga menunjukkan prospek cerah seiring meningkatnya kebutuhan industri terhadap layanan komputasi dan kecerdasan buatan (AI). Untuk mengoptimalkan peluang tersebut, Telkom tengah menyiapkan konsolidasi aset data center di bawah NeutraDC agar pengelolaan lebih fokus dan mampu mempercepat monetisasi aset.

Restrukturisasi ICT Demi Pertumbuhan yang Lebih Sehat

Pada segmen B2B ICT, Telkom membukukan pendapatan Rp3,1 triliun. Meski pertumbuhannya belum seagresif segmen lain, perusahaan menilai kondisi tersebut merupakan bagian dari proses restrukturisasi yang tengah dijalankan.

Telkom kini lebih selektif dalam menjalin kerja sama baru guna meningkatkan kualitas pendapatan, memperbaiki margin, dan memperkuat daya saing jangka panjang.

Transformasi Berjalan Sesuai Jalur

Sejumlah agenda transformasi strategis juga terus bergerak sesuai rencana. Telkom menargetkan penyelesaian divestasi AdMedika Group pada semester pertama 2026, sekaligus melanjutkan proses pemisahan bisnis dan aset wholesale fiber connectivity tahap kedua ke InfraNexia yang ditargetkan rampung pada kuartal ketiga tahun ini.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi unlock value yang diharapkan mampu meningkatkan kontribusi bisnis infrastruktur fiber terhadap pendapatan perusahaan. Saat ini kontribusi bisnis fiber berada di kisaran 15 persen dan ditargetkan meningkat hingga sekitar 25 persen dalam beberapa tahun ke depan.

Dengan transformasi yang terus dipercepat, Telkom menargetkan terciptanya komposisi pendapatan yang lebih seimbang antara segmen B2C dan B2B, sekaligus memperkuat posisinya sebagai pemain utama ekosistem digital nasional.

“Tahun 2026 menghadirkan peluang besar sekaligus tantangan yang tidak ringan. Karena itu kami akan terus mempercepat transformasi dengan tetap mengedepankan disiplin operasional agar mampu menghadirkan layanan yang semakin inklusif serta menciptakan dampak yang lebih luas bagi masyarakat,” tutup Dian. (*)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.