Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Dari Relief Candi ke Panggung Dunia: Jejak Tari Kinnara Kinnari Karya Seniman Magelang

METROJATENG.COM, MAGELANG – Di balik megahnya Candi Borobudur dan Candi Pawon, tersimpan kisah yang terus hidup lewat gerak tubuh seorang seniman tari asal Magelang, Eko Sunyoto atau akrab disapa Ki Eko. Ia setia menghidupkan relief candi-candi kuno menjadi karya tari penuh makna.

Salah satu karyanya yang paling menawan adalah Tari Kinnara Kinnari. Kisah makhluk setengah manusia setengah burung penjaga pohon kehidupan itu, tak hanya berhenti di dinding batu Candi Pawon, tetapi terbang jauh ke panggung-panggung internasional. Tari ini bahkan pernah mengundang decak kagum saat tampil di ajang International Culture Exchange Sister Borsang Umbrella Festival di Chiang Mai, Thailand pada 2020.

Di tanah air, Tari Kinnara Kinnari juga menorehkan prestasi dengan meraih penghargaan dalam Parade Tari Kreasi Jawa Tengah 2023.

“Setiap karya tari saya selalu berangkat dari relief candi, karena di dalamnya terkandung nilai kehidupan yang sangat kaya,” tutur Ki Eko.

Bukan hanya Kinnara Kinnari, imajinasinya melahirkan tari-tari lain dari relief Borobudur, seperti Tari Kubera, Lalitavistara, hingga Sudhana Manohara. Semua sarat filosofi dan menyimpan pesan moral yang bisa diwariskan lintas generasi.

Perjalanan seni Ki Eko berawal sederhana. Anak desa yang jatuh cinta pada tari sejak bangku sekolah dasar itu, pada 2008 nekat mendirikan sanggar di rumahnya, Dusun Tingal Kulon, Borobudur. Kini, Sanggar Tari Kinnara Kinnari miliknya berkembang pesat, dengan ratusan siswa mulai dari anak-anak hingga dewasa.

Di sanggar itu, setiap Jumat hingga Minggu, derap kaki penari muda berpadu dengan alunan musik tradisional. Bukan hanya gamelan, tetapi juga musik truntung, alat musik khas lereng Merbabu ciptaan Ki Eko yang terbuat dari membran mirip rebana dan dipukul dengan bilah bambu.

“Generasi muda adalah pewaris budaya. Karena itu, mereka harus dikenalkan sejak dini agar tradisi tidak hilang ditelan zaman,” tegasnya.

Kini, wisatawan yang datang ke kawasan Borobudur tak hanya menikmati kemegahan candi, tetapi juga bisa singgah di sanggar Ki Eko untuk belajar menari atau memainkan musik truntung. Dari sebuah desa kecil, Eko Sunyoto membuktikan bahwa seni tradisi mampu menembus batas ruang dan waktu, menyatukan masa lalu dengan masa kini di panggung budaya dunia.

Comments are closed.