Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Kemarau Basah Ancam Panen Tembakau di Rembang, Petani Diminta Siaga Hadapi Genangan

METROJATENG.COM, REMBANG – Musim kemarau biasanya menjadi harapan emas bagi petani tembakau di Kabupaten Rembang. Namun tahun ini, harapan itu terganjal cuaca yang tak bersahabat. Alih-alih kering, kemarau justru diwarnai hujan deras yang mengguyur hingga pertengahan Juni, mengakibatkan banyak lahan tembakau tergenang air.

Plt Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Rembang, Fajar Riza Dwi Sasongko, menyebut bahwa kondisi ini sangat memengaruhi pertumbuhan tembakau, terutama yang ditanam di lahan sawah.

“Sudah sekitar 70 persen dari total 10.000 hektare lahan ditanami tembakau. Namun yang tumbuh optimal baru 30 persen saja, sisanya banyak yang gagal karena genangan air,” ujar Fajar, Senin (24/6/2025).

Dari total luas tersebut, 9.000 hektare dikelola melalui skema kemitraan dan 1.000 hektare sisanya ditanam secara mandiri. Fajar menjelaskan bahwa sebagian besar kegagalan terjadi di lahan sawah yang belum memiliki sistem drainase memadai.

“Kalau hujan deras turun, air tertahan dan membuat tanaman ‘ngecembong’. Dalam dua hingga tiga hari saja, tanaman bisa layu dan rusak,” tambahnya.

Fenomena cuaca ini, lanjutnya, sejalan dengan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut musim kemarau 2025 akan berlangsung dalam kondisi “kemarau basah” dan berpotensi hingga akhir tahun.

Dintanpan telah menyebarkan imbauan kepada para petani agar lebih siaga dalam mengelola lahannya. Selain itu, pemerintah juga menyalurkan bantuan sarana produksi (saprodi) untuk menunjang budidaya tembakau, yang didanai melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).

Bantuan tersebut meliputi pupuk ZA sebanyak 150,3 ton, ZK 32,8 ton, NPK rendah klor 5 ton, SP26 40 ton, serta pupuk organik dan ZPT. Tak hanya itu, bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) juga diberikan, mulai dari mesin rajang tembakau, para-para pengering, hingga timbangan digital dan motor roda tiga.

“Pelatihan juga kami gelar tiga kali, seperti budidaya tembakau, diversifikasi tembakau kelapa, serta pelatihan pemupukan organik. Alsintan dari provinsi sudah diterima, sementara dari Pemkab masih dalam proses,” ungkap Fajar.

Ia juga menekankan pentingnya teknik pengolahan lahan untuk mengurangi risiko genangan. Menurutnya, pengolahan tanah yang baik akan mempercepat aliran air saat hujan lebat, sehingga tanaman tetap aman.

Tak hanya risiko gagal tanam, Dintanpan juga mengingatkan para petani untuk mewaspadai bahaya cuaca ekstrem. Belum lama ini, seorang petani di Desa Kedungasem, Kecamatan Sumber, dilaporkan meninggal dunia akibat tersambar petir saat menggarap lahannya.

“Keselamatan adalah yang utama. Kami harap petani bisa lebih berhati-hati dan selalu memperhatikan kondisi cuaca saat bekerja di lapangan,” pungkasnya.

Comments are closed.