Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Hewan Kurban Tembus 1,8 Juta Ekor, Simbol Kuatnya Solidaritas Umat

METROJATENG.COM, JAKARTA – Momen Iduladha 1446 H tahun ini mencatat rekor baru dalam semangat berbagi. Kementerian Agama (Kemenag) mengumumkan bahwa jumlah hewan kurban yang disembelih secara nasional mencapai 1.856.962 ekor, angka tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Rinciannya, sebanyak 627.130 ekor adalah sapi dan kerbau, sementara 1.229.832 ekor lainnya merupakan kambing dan domba. Data ini dihimpun oleh Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) dari seluruh pelosok negeri, mulai dari kota besar hingga desa terpencil.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menyebut pencapaian ini bukan sekadar statistik. Menurutnya, angka tersebut mencerminkan tingginya kesadaran sosial dan semangat gotong royong umat Islam di Indonesia.

“Kurban bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga cermin nyata kesalehan sosial umat. Ini adalah wajah solidaritas dan empati yang hidup dalam masyarakat kita,” tuturnya.

Tingginya jumlah kurban juga menunjukkan keberhasilan program-program strategis Kemenag, seperti Asta Protas (Delapan Program Prioritas). Salah satu programnya, yakni Layanan Keagamaan Berdampak, mendorong umat agar menjadikan ibadah sebagai bagian dari solusi sosial, termasuk melalui kurban.

Lebih dari sekadar menyembelih hewan, kurban kini menjadi simbol pemberdayaan dan distribusi keadilan sosial. Penyaluran daging tidak hanya menyasar lingkungan sekitar, tetapi juga daerah tertinggal dan kelompok rentan.

“Kami pastikan distribusi kurban menjangkau pelosok negeri. Relawan, penyuluh agama, dan lembaga keagamaan bekerja sama agar manfaatnya terasa lebih luas,” tambah Abu.

Jawa Tengah Tertinggi

Provinsi Jawa Tengah menjadi penyumbang kurban terbanyak tahun ini dengan 525.055 ekor. Capaian ini turut memperkuat posisi Indonesia yang selama beberapa tahun berturut-turut dinobatkan sebagai negara paling dermawan oleh World Giving Index.

Kemenag juga mengarahkan pelaksanaan kurban agar semakin ramah lingkungan dan sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.

“Kami dorong praktik kurban yang tidak hanya memenuhi syariat, tapi juga memperhatikan dampak lingkungan dan keberlanjutan sosial,” tutup Abu.

Comments are closed.