Harga Stabil, Transaksi Digital Meningkat: Strategi BI Purwokerto Jaga Ekonomi Banyumas Tetap Tumbuh
METROJATENG.COM, PURWOKERTO – Di tengah tantangan ekonomi dan cuaca yang tak menentu, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Purwokerto tetap melaju dengan strategi ganda, mengendalikan inflasi dan mempercepat transformasi digital ekonomi. Sinergi yang dibangun bersama pemerintah daerah, pelaku usaha, hingga kelompok tani di Banyumas Raya terbukti mampu menjaga kestabilan harga dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Kepala BI Purwokerto, Christoveny, dalam konferensi pers Selasa (18/2/2025), menegaskan bahwa upaya pengendalian inflasi terus diperkuat melalui berbagai langkah nyata. “Kami tidak hanya menjaga harga bahan pokok tetap stabil, tapi juga mempercepat adopsi QRIS agar masyarakat bisa bertransaksi lebih mudah dan efisien,” ujarnya.
Berdasarkan data BPS, Banyumas Raya mencatatkan deflasi pada Januari 2025. Purwokerto mengalami deflasi sebesar -0,54% (mtm) dengan inflasi tahunan hanya 1,02%, penurunan signifikan dari bulan sebelumnya. Cilacap pun turut menunjukkan tren serupa, dengan deflasi -0,26% (mtm).
Penurunan ini dipengaruhi oleh turunnya tarif listrik rumah tangga hingga 50%, panen bawang merah yang melimpah, serta stabilnya harga pakan ternak yang berdampak langsung pada harga telur ayam ras.
Namun, tidak semua berjalan mulus. Harga cabai melonjak karena curah hujan tinggi dan serangan hama, menjadi satu-satunya komoditas yang menahan deflasi lebih dalam. “Cabai masih jadi tantangan, tapi langkah antisipatif terus kami lakukan,” kata Christoveny.
Gerakan Pangan Murah dan Kios Stabilitas Harga
Untuk menekan gejolak harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Banyumas Raya telah menjalankan Gerakan Pangan Murah di berbagai titik strategis. Produk kebutuhan pokok seperti beras, gula, telur, dan sayuran dijual dengan harga terjangkau.
Selain itu, keberadaan Kios Pangan Murah di Toko TPID Bawor Mart Pasar Manis turut menjadi solusi permanen menjaga stabilitas harga. Tak berhenti di situ, kerja sama antara PT Food Station Tjipinang Jaya dan Gapoktan lokal pun digalakkan, termasuk kegiatan tanam padi bersama untuk memperkuat ketahanan pangan.
Dalam bidang digital, penggunaan QRIS di wilayah Banyumas Raya terus meningkat. Program edukasi dan inklusi keuangan yang dilakukan BI Purwokerto telah menjangkau pedagang pasar, pelaku UMKM, bahkan warung-warung kecil di desa.
“Transformasi digital ini penting agar ekonomi lokal tidak hanya tumbuh, tapi juga tangguh,” tegas Christoveny.
Meski pertumbuhan ekonomi Banyumas Raya pada Triwulan III 2024 tercatat 3,88% (yoy), masih di bawah rata-rata provinsi dan nasional, namun tren menunjukkan arah yang positif dibanding triwulan sebelumnya (2,43% yoy). Christoveny optimistis pertumbuhan akan terus membaik seiring dengan upaya pengendalian inflasi dan digitalisasi yang konsisten.
Comments are closed.