Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Atasi PMK, Dinakkeswan Jateng Distribusikan Vaksin dan Penyeprotan Desinfektan Kandang

METROJATENG.COM, SEMARANG – Berbagai upaya terus dilakukan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Jateng untuk mengatasi penyakit mulut dan kuku (PMK) yang banyak menyerang sapi. Selain mendistibusikan vaksin, Disnakkeswan Jateng juga melakukan penyemprotan desinfentan di area kendang serta kendaraan pengangkut hewan.

Plt Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Jateng, Hariyanta Nugraha mengatakan, pihaknya telah membentuk tim penanganan untuk mengakselerasi eliminasi penyakit yang disebabkan oleh Apthovirus tersebut.

“Kita sudah membentuk tim yang berkoordinasi antar pusat, provinsi, hingga kabupaten. Dan kemarin, kita sudah alokasi vaksin sebanyak 8.750 dosis untuk didistribusikan ke beberapa kabupaten. Kita juga upayakan kebersihan kandang, sudah kita disinfeksi, terutama pasar hewan dan kandang, sudah dilakukan penyemprotan desinfektan,” terangnya, (7/1/2025).

Dari data Disnakkeswan Jateng, sampai saat ini tercatat ada 2.026 kasus PMK. Dari jumlah tersebut, ternak yang dinyatakan sembuh ada 25 ekor, ternak mati ada 52 ekor, ternak dipotong ada 12 ekor, dan sebanyak 1.937 ekor masih dalam upaya penanganan.

Disnakkeswan Jateng juga telah menurunkan tim investigasi untuk melakukan penelitian terhadap dugaan kasus PMK yang dilaporkan. Selain itu, tim juga bertugas melakukan sosialisasi dan edukasi kepada peternak, terkait penyakit yang menyerang hewan berkaki belah atau ruminansia, seperti kambing, sapi, babi, domba, hingga kerbau.

Hariyanta menyebut, beberapa faktor memengaruhi munculnya kembali PMK. Di antaranya, masih ada ternak sapi yang belum divaksinasi secara berkala. Selain itu, adanya transaksi ternak di pasar lintas wilayah yang terinfeksi. Beberapa daerah mengalami serangan masif PMK. Di antaranya, Blora, Wonogiri, Sragen dan Pati.

“Sebelum PMK merebak di Jateng, di Jatim sudah merebak duluan. Dan memang di pasar-pasar hewan di perbatasan itu ada yang dari Jateng, Jatim, kalau tidak laku akan digeser ke pasar lain dan itu memang potensi penyebaran melalui lalu lintas ternak,” ungkapnya.

Comments are closed.