25 Perempuan Korban Mega Proyek PLTB, Curhat dalam Dialog Multipihak
METROJATENG.COM, PURWOKERTO – Dialog Multipihak yang digelar di Hotel Surya Yudha Purwokerto, Selasa (6/8/2024), jadi ajang curhat para perempuan korban mega proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTB) yang telah merusak alam dan merampas mata penghasilan mereka.
Fatmawati, perempuan pejuang hak atas air dari Desa Panembangan, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, dengan berapi-api menceritakan dampak dari eksplorasi PLTB Baturraden di lereng Gunung Slamet. Meskipun mega proyek tersebut sudah terhenti dan mangkrak, namun dampaknya masih sangat dirasakan warga pada 8 desa.
“Ikan-ikan di kolam saya mati semua, mata air hilang, warga desa kehilangan mata pencaharian dan kami dimiskinkan oleh mega proyek itu”, ucapnya.
Pasca kehilangan kolam ikan, suami Fatmawati berupaya untuk bekerja sebagai buruh tani di desa tetangga. Jarak tempuh yang jauh, sama sekali tidak sepadan dengan penghasilan yang diperoleh. Fatmawati pun jatuh-bangun berusaha membantu ekonomi keluarga, mengingat anak-anaknya masih kecil. Tetapi mereka dihempas oleh pandemi, sehingga untuk bangkit semakin sulit.
“Ibu Fatmawati hanya satu dari sekian banyak perempuan terdampak mega proyek PLTB. Kami di sini hanya menghadirkan 25 perempuan dari 4 desa. Ketimpangan ekonomi semakin tajam dan mega proyek tersebut benar-benar memiskinkan masyarakat”, kata pegiat sosial dari Grapyak, Nurlela Diryat.

Ketimpangan Ekonomi
Ketimpangan ekonomi dan gender ini, lanjut Nurlela, harus diakhiri. Nurlela memaparkan, dari hasi penelitiannya banyak warga desa yang kehilangan sumber pedapatan sejak proyek tersebut dimulai Tahun 2017. Warga 8 desa terdampak, sebagian besar merupakan petani ikan air tawar. Sumber air mereka menjadi keruh, ikan-ikan mati dan mereka kehilangan mata pencaharian.
“Keinginan mereka saat ini adalah, kembalikan kondisi alam seperti semula. Namun, itu tidak mudah. Meskipun saat ini sudah dilakukan reboisasi, tetapi butuh puluhan tahun bahkan ratusan tahun untuk mengembalikan pohon-pohon besar pada ratusan hektar lahan yang sudah tercerabut”, ungkapnya.
Dalam dialog mukltipihak, hadir berbagai stakeholder yang dipertemukan langsung dengan masyarakat. Selain warga terdampak PLTU, hadir pula perwakilan warga dari kalangan buruh tani, pemulung lansia, lansia mantan PSK, pekerja informal dan lainnya. Mereka dipertemukan dengan Dinsospermasdes Banyumas, Bappeda, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan pihak lainnya, guna mencari solusi bersama.
“Ini merupakan momentum, agar masyarakat dan pemerintah bekerjasama untuk mengakhiri ketimpangan ekonomi dan ketimpangan gender”, pungkasnya.
Comments are closed.