Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Ribuan Pemuda Jawa Tengah Bersatu untuk Gaza

*Run for Palestine 2025

METROJATENG.COM, SEMARANG- Lebih dari 4.000 warga dari berbagai penjuru Jawa Tengah memadati Balai Kota Semarang, Minggu pagi (23/11), untuk mengikuti Run for Palestine 2025. Acara yang digagas Aliansi Pemuda Indonesia untuk Palestina (API Palestina) Jawa Tengah ini menjadi aksi simbolik terbesar yang pernah digelar.

 

Di bawah sinar matahari pagi yang hangat, ribuan peserta bergerak serempak. Setiap langkah kaki mereka menjadi simbol perlawanan, keberpihakan, dan harapan bagi rakyat Palestina, yang puluhan tahun hidup di bawah penjajahan. Tidak ada spanduk besar atau kata-kata retoris yang mendominasi. Justru, gerak tubuh peserta dan langkah kaki mereka berbicara lebih lantang daripada apapun.

 

Selain lari simbolik, acara ini juga menghadirkan konser amal, youth talk Palestina, dan kegiatan melukis asa, yang menekankan pesan solidaritas. Semua kegiatan itu bertujuan menyampaikan pesan sederhana namun kuat: dukungan terhadap Palestina adalah kewajiban moral, bukan sekadar pilihan politik.

 

Sejumlah tokoh hadir untuk menguatkan pesan tersebut. Mizan, Ust. Husein Gaza, Azzam Haroki, Azmi, Kinara, serta komunitas lintas profesi dan generasi menunjukkan bahwa solidaritas ini milik semua lapisan masyarakat, bukan hanya aktivis. Setiap tepukan tangan, setiap teriakan Free Free Palestina, Bebaskan Bebaskan!. Setiap catatan musik konser amal, dan setiap coretan di atas kanvas menjadi bagian dari simbol perjuangan kolektif.

 

“Ini bukan sekadar olahraga. Ini adalah aksi simbolik yang menolak lupa. Ini adalah langkah yang menolak diam. Selama Gaza masih diluluhlantakkan, selama rakyat Palestina masih disandera penjajahan, kita tidak akan berhenti. Ribuan orang hadir karena mereka tahu: keberpihakan bukan pilihan ia adalah kewajiban”, kata Mukhlis Abdulatif, Ketua API Palestina Jawa Tengah.

Langkah ribuan peserta seakan menyatu dengan kata-kata tersebut. Balai Kota Semarang berubah menjadi panggung solidaritas, sekaligus sarana menyampaikan pesan moral dan diplomatis kepada pemerintah dan komunitas internasional.

 

Aksi ini sekaligus menjadi kritik konstruktif bagi pemerintah Indonesia. Dalam isu yang jelas hitam-putih, sikap abu-abu tidak bisa diterima. Indonesia diharapkan menegaskan posisi diplomatisnya: menolak kolonialisme dan apartheid, mendukung proses hukum internasional terhadap pelaku kejahatan kemanusiaan, memperluas bantuan kemanusiaan, serta menegakkan amanat konstitusi terkait penghapusan penjajahan.

 

Run for Palestine 2025 menunjukkan bahwa rakyat menuntut keberpihakan nyata, bukan sekadar retorika formal. Ribuan langkah yang tercatat menjadi simbol bahwa kesadaran telah menjadi aksi, dan aksi telah menjadi tekanan moral dan politik yang kuat. Tidak ada ruang untuk diam. Solidaritas diekspresikan melalui gerak nyata, suara yang bergema, dan dukungan lintas generasi.

 

Selain itu, sesi youth talk Palestina menjadi ruang edukasi bagi generasi muda untuk berbagi pemahaman soal kemanusiaan, hukum internasional, dan tanggung jawab global. Sementara konser amal dan melukis asa menambah dimensi emosional, menunjukkan bahwa seni dan budaya bisa menjadi medium perlawanan dan penggalangan dukungan nyata.

 

Run for Palestine 2025 kini tercatat sebagai tonggak solidaritas publik di Indonesia. Ribuan langkah bukan sekadar angka, total peserta yang hadir sekitar 4.500 an orang. Mereka adalah suara kolektif yang menuntut tindakan nyata, menegaskan bahwa ketidakadilan tidak bisa dibiarkan, dan solidaritas bukan sekadar slogan.

 

Lebih dari itu, acara ini bukan akhir dari rangkaian perjuangan. API Palestina Jawa Tengah menegaskan akan ada eskalasi aksi yang lebih besar ke depan, sebagai bentuk lanjutan dari solidaritas publik dan tekanan moral yang konstruktif terhadap pemerintah maupun komunitas internasional.

 

Selama Palestina belum merdeka, simbol solidaritas ini akan terus diperkuat. Selama ketidakadilan masih berlangsung, langkah ini tidak akan padam. Di Semarang, solidaritas lahir dari hati dan diwujudkan dalam gerak, simbol, aksi nyata, dan pesan diplomatis. Bahwa keberpihakan terhadap kemanusiaan adalah kewajiban, dan aksi nyata selalu lebih kuat daripada retorika.(ris)

Comments are closed.