Gudang Penuh Gula Rakyat, Penjualan Macet Akibat Serbuan Rafinasi Murah
METROJATENG.COM, JAKARTA – Tumpukan gula pasir hasil panen rakyat menggunung di gudang-gudang pabrik gula di Situbondo dan Bondowoso. Ribuan ton gula senilai ratusan miliar rupiah tak kunjung terjual, sementara gula rafinasi justru membanjiri pasar dengan harga lebih murah.
Fakta ini disampaikan Anggota Komisi VI DPR RI, Nasim Khan, usai menggelar audiensi dengan Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) dan para General Manager pabrik gula di Regional 4 Jawa Timur, di Pabrik Gula (PG) Prajekan, Bondowoso.
Angka yang disampaikan membuat dahi berkerut. Di PG Prajekan, 4.600 ton gula senilai Rp60 miliar masih tersimpan. PG Assembagoes di Situbondo menyisakan 5.000 ton (Rp50 miliar), PG Panji 2.500 ton (Rp36 miliar), dan PG Wringin Anom 3.900 ton tak terserap selama delapan periode giling terakhir.
“Ini ibarat nyawa di tenggorokan. Petani menunggu pembayaran, tapi gula tidak laku di pasaran,” keluh Chandra Sakri Widjaja, GM PG Prajekan.
Masalah makin pelik karena peredaran gula rafinasi yang sejatinya hanya untuk industri makanan dan minuman, merambah pasar ritel. Harganya yang sekitar Rp13.600 per kilogram membuat gula produksi rakyat di kisaran Rp14.400 sulit bersaing, meski pemerintah menetapkan harga acuan Rp14.500.
Akibatnya, pembayaran kepada petani macet. GM PG Assembagoes, Mulyono, mengungkapkan empat periode giling terakhir belum ada pelunasan. Bahkan, sisa stok musim lalu masih 140 ribu ton.
APTRI Pusat sudah berkoordinasi dengan kementerian terkait. Salah satu opsi yang dibahas adalah pembelian sementara oleh PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) menggunakan dana Danantara, demi mengosongkan gudang dan memberi napas bagi petani.
Nasim Khan mengingatkan, langkah itu hanya solusi sesaat. “Kalau bisa, besok harus ada keputusan. Di regional ini saja, ratusan miliar rupiah belum terbayar. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan,” tegas legislator PKB dari Dapil Jawa Timur III itu.
Ia menutup dengan pesan optimistis, bahwa Indonesia mampu swasembada gula bila tata niaga dibenahi dan petani dilindungi. “Kalau pasar dibanjiri rafinasi, petani akan kehilangan semangat,” pungkasnya.
Comments are closed.