Zaman Digital, Ibu-ibu Muda Perlu Awasi Pergaulan Anak

Para orang tua harus bijak dalam menyikapi pergaulan anak di era digital. 

Ketua Penggerak PKK Kota Semarang, Krisseptiana saat menjadi narasumber seminar parenting di Balai Kelurahan Gunungpati. (Foto: Fariz Fardianto/metrojateng.com)

 

SEMARANG – Pesatnya perkembangan zaman di era serba digital seperti saat ini membuat para ibu muda cenderung kurang memahami cara mengawasi pergaulan anaknya.

 

Tim Kuliah Kerja Nyata Mandiri Inisiatif Terpadu ketujuh Posko 39 UIN Walisongo Semarang mengupas permasalahan tersebut dalam acara seminar parenting, di Balai Kelurahan Gunungpati, Jalan RM Soebagiyono Tjondro Koesoemo, Gunungpati, Jumat sore (8/2/2019).

 

Koordinator Desa KKN Mandiri Inisiatif Terpadu ketujuh, UIN Walisongo Semarang, Ahmad Azmi Hidayatullah, mengatakan ruang diskusi tersebut bertujuan untuk mengingatkan para orang tua, terutama ibu-ibu muda dalam menyikapi pergaulan anak di era digital.

 

Perkembangan saat ini, ia melihat banyak ibu muda memilih jadi wanita karir. Sehingga kehilangan waktu untuk mengontrol kegiatan anak-anak.

 

“Secara otomatis ibu yang masih muda cenderung belum memiliki pengetahuan mendalam tentang cara mengontrol pergaulan anak,” tuturnya.

 

Di hadapan 91 peserta seminar, ia menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap pemakaian gawai. Anak-anak, lanjutnya, perlu mendapatkan kontrol dan perhatian. “Mengakses internet berlebihan juga membawa dampak mengganggu kedekatan emosional dengan orang tuanya,” imbuhnya.

 

Dalam kesempatan sama, Ketua Penggerak PKK Kota Semarang, Krisseptiana Hendrar Prihadi mengatakan, tidak ada alasan bagi orang tua untuk tidak menyayangi anaknya. Doa juga harus dipanjatkan kepada anak.

 

“Saat kita tua, apa yang kita inginkan dari anak? Bukan uang atau perhiasan, hanya perhatian dan kasih sayang,” papar Tia, sapaannya.

 

Selain itu, Tia menjelaskan perhatian juga bisa diberikan melalui obrolan ringan. Mulai saling bertanya kesehariannya di sekolah dan sebagainya. Komunikasi verbal akan membangun hubungan emosional yang baik antara orang tua dan anak.

 

Ketua Dyslexia Parents Support Group (DPSG) Jawa Tengah, Dian Ayu Hapsari berpendapat masalah yang biasa terjadi di rumah lantaran minimnya kemampuan orang tua dalam mengendalikan emosi ketika menghadapi anaknya.

 

Orang tua memang harus tegas, disiplin, dan lembut. “Yang harus diketahui adalah tegas tidak sama dengan kasar, disiplin tidak sama dengan keras, dan lembut berbeda dengan lembek,” pungkasnya. (far)

 

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.