Yayuk Basuki: Perhatian Pemerintah Minim, Pensiunan Mantan Atlet Mandek

Banyak aturan tumpang tindih membuat perhatian pemerintah dalam memberikan penghargaan bagi atlet kurang memadai.

SEMARANG – Anggota Komisi X DPR RI, Yayuk Basuki mengatakan sedang gencar mengusulkan revisi UU Sistem Keolahragaan Nasional (SKN) Nomor 3 Tahun 2005. Pasalnya, implementasi aturan tersebut kini belum bisa mengurai benang kusut atas masalah yang dihadapi para atlet di Tanah Air.

 

Foto: Mantan petenis top Indonesia, Nanik Rahayu Basuki alias Yayuk Basuki ketika ditemui di Pulen Kafe, Jalan Singosari. (Fariz Fardianto/metrojateng.com)

 

Yayuk menganggap koordinasi antar lembaga di bidang olahraga saat ini sangat minim. Tak cuma itu, banyak pula aturan yang tumpang tindih sehingga membuat perhatian pemerintah dalam pemberian penghargaan bagi atlet kurang memadai.

“UU SKN selama ini hanya sebatas memuat pasal yang mengatur tentang penghargaan bagi para atletnya. Di situ tidak ada satupun yang merinci apa saja yang harus dilakukan bagi atlet-atlet yang sudah mengharumkan nama Indonesia,” ujar pemilik nama lengkap Nanik Rahayu Basuki ini, saat ditemui di Jalan Singosari Raya, Semarang, Sabtu siang (13/4/2019).

Ia ingin UU SKN diubah sesuai kebutuhan yang mendesak saat ini. Salah satunya untuk memperjuangkan peningkatan anggaran olahraga sebesar 1 persen, menjadi Rp 24 triliun dari kondisi semula hanya 0,2 persen atau sebesar Rp 4 triliun.

“Idealnya kalau 1 persen dapat anggaran Rp 24 triliun. Nah, sekarang kan kita cuma dapat Rp 4 triliun. Itu pun ada tambahan dana titipan. Padahal, Singapura dan Malaysia selama ini anggaran olahraganya sudah cukup tinggi,” urainya.

Ia menyoroti aturan yang tumpang tindih telah memunculkan dualisme kepemimpinan di beberapa cabor. Mulai cabor berkuda, hoki dan taekwondo. “Kan kasihan para atletnya. Padahal banyak bibit potensial dari cabor-cabor andalan termasuk atletik,” ujar peraih emas Asian Games Bangkok pada 1998 silam tersebut.

Alhasil, ia terenyuh saat melihat nasib atlet-atlet andalan Indonesia yang menelan kekecewaan akibat minimnya perhatian pemerintah. Seperti yang dialami Taufik Hidayat dan Susi Susanti sebagai mantan atlet jawara badminton.

“Suatu ketika Taufik dan Susi tiba-tiba curhat kalau pencairan dana pensiunnya sebagai atlet mandek di tengah jalan. Pemerintah beralasan tidak ada payung hukumnya, sehingga nantinya bisa bermasalah. Taufik dan Susi curhatlah ke saya. Bagi saya, ini jadi sebuah pelajaran yang harus diperbaiki lewat revisi UU SKN,” kata Yayuk.

Ia juga menyarankan kepada pemerintah untuk merancang aturan supaya para gubernur diizinkan rangkap jabatan supaya memudahkan penyaluran dana bantuan APBD bagi para atlet.

Upaya ini juga demi menjawab pertanyaan banyak orangtua mengenai kesejahteraan anaknya selama jadi atlet.

“Saya akan upayakan semaksimal mungkin agar UU SKN nanti juga mengatur tenggat waktu tunjangan dana pensiun atlet, dorongan pemberian dana beasiswa bagi atlet yang akan berkuliah, pemberian asuransi bagi atlet baik yang dibina di tingkat pelatnas maupun pelatda,” papar perempuan yang kembali nyaleg untuk dapil Jateng I tersebut. (far)

 

Ucapan Lebaran 1440

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.