Yayasan Setara Sosialisasikan Cegah Eksploitasi Seksual Anak via Online?

image

SEMARANG- Yayasan Setara bersama Tim Penggerak PKK Kota Semarang akan menggelar sosialisasi program Pencegahan dan Penanganan Eksploitasi Seksual secara Online dan Eksploitasi Seksual di Perjalanan dan Pariwisata pada anak. Sosialisasi dijadwalkan secara bertahap mulai 27 Mei, dilanjutkan 30 Mei hingga 2 Juni 2016.

Direktur Program Yayasan Setara Tsaniatus Shalikhah mengatakan, kegiatan yang ?akan diikuti oleh PKK dari 16 Kecamatan se-Kota Semarang itu mengambil tempat di Gedung PKK Kota Semarang. “Kegiatan sosialisasi ini akan diteruskan oleh Tim penggerak PKK Kota Semarang keseluruh SMA dan SMP Kota Semarang saat kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS),” katanya, dalam rilisnya, Kamis (26/5).

Melalui kegiatan tersebut, lanjut Shalikhah, diharapkan dapat menekan angka kejahatan eksploitasi seksual secara online dan pariwisata terhadap anak yang sedang marak terjadi di Indonesia khususnya Kota Semarang.

Dijelaskannya, ?sosialisasi penting dilakukan karena Indonesia merupakan Negara berkembang dengan penggunaan media sosial tertinggi keenam setelah Brazil dan Jepang. Kehadiran berbagai platform media sosial dan situs itu marak dimanfaatkan pihak-pihak tertentu sebagai sarana untuk melakukan eksploitasi seksual terhadap anak. Para korbannya tidak hanya dari kalangan kaum miskin, namun menjadi ancaman bagi semua anak.

“Gaya hidup menjadi faktor dominan yang menyebabkan anak rentan menjadi korban kejahatan seksual anak,” ujarnya.?

Menurut data yang dipublikasikan KPAI sejak tahun 2011-2014, jumlah anak korban pornografi dan kejahatan online di Indonesia telah mencapai jumlah 1022 anak. Secara rinci dipaparkan, anak-anak yang menjadi korban pornografi online sebesar 28%, pornografi anak online 21%, prostitusi anak online 20%, obyek VCD porno 15%, dan anak korban kekerasan seksual online 11%.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk menanggulangi kasus eksploitasi anak tersebut. Di antaranya dengan menyusun rencana aksi nasional, meratifikasi berbagai instrumen internasional yang terkait dengan perlindungan anak, mengesahkan berbagai undang-undang yang secara khusus atau menjadi salah satu bagian atau kandungan untuk memberikan perlindungan bagi anak-anak dari eksploitasi seksual anak.

“Kendati demikian pada tingkat implementasi dari kebijakan dan program masih dinilai kurang memadai, terlebih dalam menjerat dan menuntut para pelaku ESA agar mendapat hukuman setimpal,” tegasnya. (byo)?

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

− 1 = 1

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.