Wayang Potehi Jadi Tema Besar Pasar Imlek Semawis 2020

Seni pertunjukan Wayang Potehi dari negeri Tiongkok ini sudah ada di Indonesia sejak ratusan tahun lalu dan telah berasimilasi dengan budaya lokal.

Panitia Pasar Imlek Semawis 2020 mengawali perayaan tahunan jelang tahun baru Tionghoa yang digelar 17-19 Januari 2020 di kawasan pecinan Semarang dengan berdoa bersama di Kelenteng Tay Kak Sie, Sabtu (11/1/2020). Foto : metrojateng.com/anggun.

SEMARANG – Pasar Imlek Semawis (PIS) 2020 kembali digelar di Kawasan Pecinan Semarang, 17-19 Januari 2020. Kali ini tema keberagaman kembali diangkat dengan melestarikan Wayang Potehi.

Wayang Potehi adalah sebuah pertunjukan boneka atau wayang semacam wayang golek yang dimainkan di atas panggung kecil dan mempertontonkan berbagai kisah klasik China. Potehi berasal dari Poo yang berarti kain, tay yang berarti kantung dan hay yang berarti wayang. Jadi wayang potehi adalah wayang kantung kain.

Seni pertunjukan dari negeri Tiongkok ini sudah ada di Indonesia sejak ratusan tahun lalu dan telah berasimilasi dengan budaya lokal. Namun, belakangan ini Wayang Potehi hampir punah, karena jarang dipertunjukan.

Ketua Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis), Harjanto Halim mengatakan, wayang asal Tiongkok ini sudah banyak diketahui masyarakat Indonesia. Bahkan, baik pegiat, dalang, ataupun penontonnya tidak hanya keturunan Tionghoa.

“Kesenian ini cukup unik, mulai dalangnya, bahasa pengantarnya, hingga pakaian bonekanya. Bahkan di beberapa daerah salah satunya di Jombang Jawa Timur ada yang bahasa pengantarnya dengan bahasa daerah. Maka kami angkat keberagaman di Pasar Imlek Semawis 2020 melalui Wayang Potehi agar seni pertunjukan ini mendapat perhatian secara luas,” ungkapnya di sela acara selamatan dan ketuk pintu sebelum acara Pasar Imlek Semawis di Klenteng Tay Kak Sie Semarang, Sabtu, (11/1/2020).

Tujuan melestarikan Wayang Potehi sebagai simbol keberagaman ini sejalan dengan strategi Kopi Semawis yang setiap tahun rutin menyelenggarakan Pasar Imlek Semawis di Kawasan Pecinan Semarang. Adapun, strategi perayaan yang digelar jelang tahun baru Tionghoa itu antara lain melestarikan dan mengembangkan warisan budaya pasar yang disebut 29-meh, mendorong semangat berproduksi dan tidak hanya mengkonsumsi di kalangan luas melalui pameran dan bazaar produk, dan merevitalisasi kawasan cagar budaya di Kota Semarang.

Harjanto menjelaskan, melalui acara yang digelar selama tiga hari itu pihaknya akan menghadirkan pemerhati dan seniman Wayang Potehi dari berbagai daerah seperti dari Jombang, Jakarta, dan Semarang.

“Kami akan berdiskusi terkait tema tersebut, dan harapannya Wayang Potehi tidak berhenti di acara ini, tapi terus bisa lestari. Seperti kata para pegiatnya yang berharap, kalau bisa Wayang Potehi ini banyak yang nanggap dan ke depan digagas ada mobil pertunjukan kelilingnya,” jelasnya.

Sementara pada untuk melestarikan Wayang Potehi di Pasar Imlek Semawis 2020 akan digelar berbagai kegiatan seperti pertunjukan, photobooth Potehi, mewarnai Potehi, hingga workshop Potehi. (anggun)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.