Waspadai, Potensi Hujan Lebat Disertai Angin Kencang Masih Tinggi

Wilayah Jawa Tengah masih berpotensi diguyur hujan lebat disertai angin kencang hingga 22 Maret 2019.

Ilustrasi. (metrojateng.com)

 

SEMARANG – Stasiun Klimatologi Kelas I, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kota Semarang memperkirakan sejumlah wilayah Jawa Tengah masih berpotensi diguyur hujan lebat disertai angin kencang hingga 22 Maret 2019.

Maka dari itu, BMKG mengimbau sejumlah pemda di Jawa Tengah, termasuk warga untuk waspada. Berbagai potensi seperti banjir, tanah longsor, pohon dan baliho tumbang patut diwaspadai. Termasuk membersihkan saluran drainase yang berpotensi memicu banjir meluap.

“Untuk beberapa hari ke depan setelah banjir yang terjadi di Purworejo, dari analisa kami, curah hujan di Jawa Tengah terutama kawasan jalur selatan masih diguyur hujan dengan intensitas ringan, sedang hingga lebat. Kewaspadaan harus dilakukan masyarakat untuk menghadapi potensi bencana hidrometeorologi mulai banjir, longsor maupun angin kencang,” ungkap Kasi Data dan Informasi, Stasiun Klimatologi Kelas I, BMKG Kota Semarang, Iis Widya Harmoko ketika berbincang dengan metrojateng.com, Rabu (20/3/2019).

Iis mengungkapkan kecepatan angin hingga dua hari ke depan sekitar 10-15 knot per jam. Kondisi itu, kata dia, masih dalam ambang batas normal. “Kalau sudah bergerak ke 25 knot itu harus diwaspadai,” sambungnya.

Lebih jauh lagi, ia menjelaskan, curah hujan yang lebat akhir-akhir ini karena disebabkan munculnya dua fenomena siklon tropis yang datang dari arah perairan Lampung dan Timur NTT.

Ia mendeteksi pergerakan fenomena itu dengan nama siklon tropis savannah dari arah Samudera Hindia barat daya Lampung. Serta satu lagi siklon tropis Trevor dari arah perairan Laut Selatan Papua Nugini.

Pertemuan dua siklon tropis ini memicu perubahan pola tekanan udara yang rendah. Masing-masing sampai 1003 hPa di Samudera Hindia selatan NTT dan 1007 di selatan perairan Filipina dan Kepulauan Caroline.

“Ketika dua fenomena itu melewati Jawa Tengah, maka intensitas curah hujannya menjadi lebat. Malahan saat banjir di Purworejo, hujannya sangat lebat,” katanya.

Untuk mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi akibat kemunculan siklon tropis, ia mengimbau semua pemda untuk mengupayakan pembersihan saluran drainase yang tersumbat sampah. Hal ini dimaksudkan untuk meminimalisasi banjir.

“Selokan kampung dan drainase harus dibersihkan oleh pemda supaya tidak muncul genangan saat hujan. Yang paling dicermati lagi, pihak Dinas Tata Ruang Kota setiap daerah harus menertibkan baliho-baliho yang rawan tumbang. Supaya saat angin kencang, tidak roboh mengenai pengguna jalan raya,” kata Iis. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.