Warga Kendal Bongkar Paksa Blokade Perlintasan Kereta Api

Pembongkaran paksa oleh warga pada blokade jalan di tempat bekas terjadinya tabrakan kereta api dengan mobil, bulan lalu. (foto: metrojateng.com/Edy Prayitno)

KENDAL –  Besi yang menutup perlintasan kereta api tanpa palang pintu yang dipasang Dirjen Perkeretaapian dibongkar paksa warga. Padahal blokade jalan tersebut ditujukan untuk mengantisipasi kecelakaan di perlintasan tersebut.

Warga yang melakukan pembongkaran berasal dari enam desa. Masing-masing adalah Desa Pamriyan, Gebang, Mojo, Rowobranten, Rowowaking, Kedunggading dan Kedungasri. Mereka menilai penutupan jalan tersebut mematikan perekonomian warga terutama di enam desa tersebut, lantaran mobil tidak bisa lewat dan harus berputar puluhan kilometer.

Warga sekitar Akhmad Khoiri mengatakan, perlintasan tanpa palang pintu itu merupakan akses utama enam desa tersebut. Sehingga kalau ditutup pasokan logistik, jual beli hasil panen, material pembangunan, mobil ambulan, mobil kepolisian, bahkan mobil pemadam kebakaran tidak bisa lewat. Jalur tersebut juga dipakai untuk keluar masuk arus perdagangan.

“Dampak penutupan itu sangat besar. Masyarakat menghendaki besi yang dipasang di kanan kiri rel dibuka, sehingga mobil bisa lewat,” kata Khoiri.

Warga bukannya tak punya rencana. Setelah penutup rel dibuka akan dibuatkan palang pintu sementara dan dijaga secara manual, untuk menghindari adanya kecelakaan. Selanjutnya, warga menuntut dibuatkan palang pintu permanen lengkap dengan sistem penjagaan. “Kalau tidak dipenuhi warga siap geruduk Kantor Bupati,” jelasnya.

Kades Gebang Riyanto mengatakan, penutupan perlintasan itu membuat warga kesulitan membangun karena material tidak bisa masuk. “Setelah melalui musyawarah dengan berbagai pihak ahirnya kami nekad membuka paksa tutup rel ini,” ujarnya.

Pihaknya telah memberi tembusan kepada Pemkab Kendal, Dishub Kendal dan pihak terkait lainnya. Riyanto mengatakan, biaya pembuatan palang akan ditanggung masyarakat dari enam desa.

Camat Gemuh M Fathoni mengatakan, awalnya warga berencana menggelar aksi demonstrasi agar dibangunkan palang pintu permanen. Namun pihaknya bersama Diskominfo berhasil meredam dan membuat kesepakatan dengan warga agar tidak ada demonstrasi.

“Warga sepakat tidak ada demontrasi. Mereka juga siap mengamankan rel tanpa palang pintu dengan menugaskan penjaga,” ujarnya. (MJ-01)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

63 − 62 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.