Warga dan Tentara Kompak Perangi Tikus Sawah

Gropyokan tikus dilakukan di lahan seluas 130 hektare dan berlangsung selama empat jam, mulai pukul 07.00-11.00.

SUKOHARJO – Hama tikus menjadi musuh utama petani saat masa tanam padi. Berbagai upaya dilakukan untuk mengusir binatang pengerat tersebut, di antaranya melalui gerakan gropyokan seperti yang dilakukan warga Desa Pranan, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo, Minggu (20/1/2019).

Gropyokan tikus di Desa Pranan Sukoharjo, Minggu (20/1/2019). Foto: metrojateng.com

Sedikitnya 500 orang ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, termasuk anggota TNI dari Koramil Polokarto dan petugas Dinas Pertanian.

Kades Pranan, Sardjanto mengatakan, gropyokan tikus dilakukan di lahan seluas 130 hektare. Warga dibagi menjadi 10 kelompok dan berlangsung selama empat jam, mulai pukul 07.00-11.00.

“Setiap kelompok bisa 100an tikus yang ditangkap, dan selanjutnya akan dimusnahkan,” kata dia.

Kepala Dinas Pertanian Netty Harjanti mengapresiasi inisiatif warga Desa Pranan. “Kami menyambut baik upaya petani yang digerakkan untuk melakukan upaya menekan hama. Apalagi hama tikus sedang banyak-banyaknya di awal masa tanam,” kata Netty.

Ditambahkan Netty dari 20.518 hektar lahan sawah di Sukoharjo, ada sejumlah titik yang rawan hama khususnya tikus dan penggerek batang. Yakni di Kecamatan Tawangsari, Polokarto, Mojolaban, Sukoharjo dan sebagian Kecamatan Grogol.

Selain kegiatan gropyokan tikus, memanfaatkan burung hantu juga sangat efektif membasmi hama tikus. Hanya saja pengembangbiakan burung hantu membutuhkan biaya dan waktu.

“Kami imbau petani patuhi sejumlah hal memasuki masa awal tanam di puncak musim hujan, melalui penggunaan bibit tahan air seperti ciherang, membatasi penggunaan urea dan pengecekan saluran irigasi,” imbuh Netty. (MJ-28)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.