Waisak Momentum Membangun Semangat Kebersamaan

Keberagaman juga merupakan inteprestasi dalam kehidupan umat beragama, yang dalam konteks berdemokrasi, sebagai upaya membangun semangat kebersamaan.

MAGELANG – Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin menghadiri langsung perayaan Tri Suci Waisak 2563 BE/2019 yang dipusatkan di Candi Borobudur Kabupaten Magelang, Sabtu (18/5/2019) malam. Menag juga mengingatkan bahwa keberagaman menjadi kekuatan bangsa Indonesia, termasuk dalam proses demokrasi.

Penerbangan lampion menjadi rangkaian peringatan Tri Suci Waisak di Kompleks Candi Borobudur Magelang, Sabtu (18/5/2019) malam. Foto: metrojateng.com/ch kurniawati

“Umat Budha memperingati tiga momentum penting, yakni kelahiran orang suci, pencapaian Kebudhaan dan meninggalnya Budha Gautama. Selamat memperingati Trisuci Waisak kepada umat Budha seluruh Indonesia. Semoga berkah Waisak membawa kebahagiaan dan kedamaian seluruh umat manusia,” ucap Menag yang langsung disambut tepuk tangan dari segenap umat.

Dalam kesempatan itu, Menag juga menyampaikan bahwa bangsa Indonesia baru saja melewati pemilu serentak, dengan lancar, aman dan damai. Saat ini proses masih berlanjut menuju penentuan akhir pada 22 Mei mendatang.

“Banyak hal yang mungkin terjadi selama proses berdemokrasi, berhubungan dengan kehidupan bangsa Indonesia, namun kita semua yakin dan percaya bahwa dengan kedewasaan berdemokrasi, Indonesia akan jadi negara maju dan bermartabat,” katanya.

Keberagaman yang jadi ciri khas Indonesia, menurut Menteri Lukman, hakekatnya merupakan kekuatan bukan hal yang melemahkan. “Demokrasi mampu mengelola keberagaman yang ada di Indonesia. Keberagaman juga merupakan inteprestasi dalam kehidupan umat beragama, yang dalam konteks berdemokrasi, sebagai upaya membangun semangat kebersamaan. Kita semua yakin bahwa inti ajaran agama adalah kasih sayang, bukan kebencian,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Umum DPP Walubi Siti Hartati menyampaikan, Tri Suci Waisak diperingati setiap tahun oleh masyarakat umat Budha sedunia. Hal ini untuk mengenal kemuliaan dan keluhuran Sang Budha Sidartha Gautama yang menjadi suri teladan bagi umat Budha.

Perayaan Tri Suci Waisak 2563 BE/2019 di pelataran Candi Borobudur Kabupaten Magelang, Sabtu (18/5) malam. Foto: metrojateng.com/ch kurniawati

“Kemuliaan dan keluhuran Sang Budha Siddhartha Gautama yang menjadi suri teladan bagi kita semua dengan tujuan agar dapat mengembangkan kebajikan dan kehagiaan diri dalam hidup di dunia yang tidak kekal ini,” katanya.

Dia menuturkan, kelahiran, umur tua, penyakit, kematian, berkumpul dengan orang yang dibenci, berpisah dengan orang yang dicinta, tidak memperoleh apa yang dicita-citakan berada di dalam lingkungan hidup jasmani dan rohani serta lingkungan yang tidak kekal merupakan bentuk penderitaan yang tiada akhirnya.

“2563 tahun yang silam, Sang Budha Gautama telah menemukan jalan keluar untuk membebaskan manusia dari semua makhluk dari duka dan derita,” kata Hartati.

Perayaan Tri Suci Waisak yang dihadiri Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Pangdam IV/Diponegoro Mayjen M Effendi, Kapolda Jateng Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel, Sekjen DPP PDIP, Hasto Kristiyanto, berlangsung dengan khidmat.

Perayaan ini hanya diperbolehkan diikuti umat Budha saja. Masyarakat umum yang biasanya turut berbaur menyaksikan perayaan ini, hanya diperbolehkan berada di bawah. Petugas keamanan secara tegas akan melarang warga yang tidak berhubungan dengan Waisak, memasuki area perayaan. (MJ-24)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.