Wacana Game PUBG Mobile Bakal Diharamkan, Begini Tanggapan Player

Aksi teror di Christchruch, Selandia Baru berdampak mengusik para pecinta game online. Game tersebut dinilai menyerupai aksi penembakan para teroris.

Ilustrasi. Game Player’s Unknown Battlegrounds (PUBG) Mobile. (metrojateng.com)

 

SEMARANG – Game Player’s Unknown Battlegrounds (PUBG) Mobile yang hampir genap setahun dirilis mendapat goncangan. Beberapa kota di India bahkan melarang keras game ini, disusul Malaysia yang mewacanakan pelarangan game bertahan hidup ini lantaran dirasa memiliki dampak negatif bagi para pemainnya.

Hembusan kabar pelarangan PUBG Mobile menyeruak tidak lama setelah aksi teror di Christchruch, Selandia Baru beberapa waktu silam. Banyak pihak dan media yang menghubungkan tindakan pelaku teror dan PUBG Mobile karena menggunakan senapan.

Di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat juga mengkaji dampak game online yang saat ini banyak dimainkan masyarakat. Bukan tidak mungkin kajian tersebut akan berujung fatwa pelarangan alias fatwa haram, menyusul India dan Malaysia.

Menanggapi isu tersebut, beberapa pemain PUBG Mobile angkat bicara. Pemain PUBG Mobile asal Semarang, Adityo Restu keberatan jika PUBG Mobile dilarang. Terlebih lagi, banyak game sejenis, seperti Free Fire, Rules of Survival yang memiliki gameplay mirip dengan PUBG Mobile dan tersedia gratis di Play Store dan App Store.

“Daripada dilarang, lebih baik diberi peringatan atau batasan umur. Masyarakat dan orang tua bisa lebih aktif melakukan pengawasan serta edukasi bahwa itu tidak lebih dari sekadar hiburan,” kata dia, Rabu (20/3/2019).

Adit mengaku, memainkan PUBG Mobile hanya untuk bersenang-senang bersama rekan-rekannya selepas bekerja dan kuliah. Biasanya bermain saat berkumpul bersama teman-temannya di sebuah tempat nongkrong untuk refreshing atau sekadar mengisi waktu luang.

Dia menambahkan, di zaman saat e-sport sedang berkembang pesat, pelarangan game seperti ini justru akan membuat peminat e-sport akan ragu untuk total dalam dunia e-sport.

“Memang ada yang bermain game untuk kesenangan seperti saya. Tapi ada juga yang bermain game karena itu memang pekerjaannya sebagai atlet e-sport,” pungkasnya. (ade)

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.