VIDEO: Lontong Cap Go Meh Kedai 55, Kuliner Peranakan Khas Semarang

lontong cap go meh semarang
Lontong Cap Go Meh Kedai 55. (foto: metrojateng.com/Efendi)

 

TAHUN baru imlek yang dirayakan mulai pada tanggal 16 Febuari dan berakhir dihari ke-15 menurut tanggalan Sincia. Pada serangkaian perayaan tahun baru ini, masyarakat Tionghoa biasanya mengadakan tradisi  Cap Go Meh. Lagi-lagi ada perjamuan makan yang dihadiri seluruh anggota keluarga.

Bicara Cap Go Meh ada satu menu wajib dalam perayaan ini. Yaitu Lontong Cap Go Meh. Di Semarang, menu ini begitu dicari saat detik-detik perayaan. Tak melulu harus memasak sendiri, ada beberapa kedai yang menjualnya.

Satu yang legendaris adalah Kedai 55. Rumah makan sederhana di Jalan Puri Anjasmoro K-6/19 Semarang. Ini benar-benar rumah, karena tempatnya di teras rumah dengan masakah berbumbu rumahan yang diolah pemilik kedai.

Lontong Cap Go Meh adalah menu andalan Kedai 55, yang sudah bertahan 58 tahun lamanya. Kedai 55 bisa disebut sebagai warung yang menyajikan Lontong Cap Go Meh tertua di Semarang. Lontong Cap Go Meh di kedai ini bisa ditemui kapan saja di luar rangkaian perayaan imlek.

Pemiliknya, Emak Louis (83) begitu panggilan pelanggan setianya, melayani sepenuh hati, mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB. Usia renta tak membuatnya berhenti untuk tidak ikut andil menyajikan Lontong Cap Go Meh.

lontong cap go meh kedai 55
Emak Louis setia melayani pembeli. (foto: metrojateng.com/Efendi)

Emak Louis merupakan generasi ke dua dari Kedai 55. Angka 55 dalam nama kedai didapat dari alamat lama kedai di Jalan Benteng No 55, kawasan Pecinan, Semarang. Sejak usia 23 Emak Louis sudah bantu-bantu di Kedai, yang dulu milik orang tuanya.

Tak sedikit pelanggan setia yang sudah pindah ke luar kota, rela datang untuk menyantap masakan keluarga Emak Louis. “Banyak pelanggan lama yang sudah pindah ke Jakarta, Surabaya dan Kudus masih mampir makan di sini,” ungkapnya.

Cita rasa yang tetap sama dari dulu hingga sekarang membuat Lontong Cap Go Meh Kedai 55 tidak lekang oleh waktu. “Dulu Mama saya sempet pesan, supaya rasa tetap sama bumbu jangan dikurangi dan jangan dilebih-lebihkan. Biar pun mahal yang penting rasa nggak berubah,” tuturnya.

Sepiring Lontong Cap Go Meh terdiri dari, potongan lontong, opor ayam kampung, sambal goreng, pindang telur, dan bumbu abing. Abing memberikan sensasi berbeda di lidah. Jika diaduk, akan membuat kuah santan menjadi kecoklatan.

Abing terbuat dari parutan kelapa yang disangrai hingga keluar minyak. Bumbu lain adalah rempah-rempah. Saun salam, lengkuas, sereh dan daun jeruk. Wow! Terbayang bukan kekayaan rasa lontong ini?

Semarak perayaan imlek membuat Kedai 55 ikut kebanjiran order. Tahun lalu 800 porsi Lontong Cap Go Meh dipesan dari berbagai kota di Semarang. Tahun ini Kedai 55 tidak membuka pesanan, oleh sebab kekurangan tenaga. “Yang bantu lagi pulang kampung. Kalau saya dan anak-anak saja yang buat gak akan sanggup,” ujar Emak Louis.

Lontong Cap Go Meh Kedai 55 menunjukan alkulturasi budaya Tionghoa – Jawa di kota Semarang yang terus terjaga. Keluarga Emak Louis terus menjaga resep leluhur agar tidak punah. Kelezatan Lontong Cap Go Meh Kedai 55 ini turut mewarnai dan memperkaya cita rasa kuliner nusantara. (Fitria Eka)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

3 + 6 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.