UNS Tambah Dua Guru Besar

Prof. Sri Hartati guru besar ke-198 di UNS dan ke-28 di FP, sedangkan Prof. Venty Suryanti merupakan guru besar ke-197 UNS dan ke-14 di FMIPA

SOLO – Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo menambah dua guru besar baru di bidang Ilmu Pemuliaan Tanaman dan Ilmu Kimia Organik Sintesis dan Bioorganik. Dua guru besar tersebut yaitu Prof. Sri Hartati dari Fakultas Pertanian (FP) dan Prof. Venty Suryanti dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) yang akan dikukuhkan pada Kamis (10/1) mendatang.

Prof. Venty Suryanti (kiri) dan Prof. Sri Hartati memberikan keterangan kepada media, Selasa (8/1/2019). Foto: metrojateng.com

Prof. Venty Suryanti akan menyampaikan pidato pengukuhan dengan judul “Sintesis Biosurfaktan Menggunakan Substrat dari Bahan yang Dapat Diperbarui (Renewable) dan Aplikasinya”.  Sedangkan, Prof. Sri Hartati akan menyampaikan pidato pengukuhan dengan judul “Peran Ilmu Pemuliaan Tanaman Bagi Pengembangan Anggrek di Indonesia”.

Prof. Venty Suryanti meneliti tentang Surfaktan merupakan senyawa yang sangat penting yang telah digunakan untuk berbagai aplikasi. Biosurfaktan dapat diaplikasikan untuk meminimalisasi pencemaran lingkungan oleh logam berat dan senyawa-senyawa Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH) yang toksik.

“Surfaktan pada umumnya merupakan produk turunan minyak bumi yang disintesis secara kimia yang dapat mencemari lingkungan karena bersifat tidak dapat terdegradasi secara alami (non-biodegradable). Selain itu, minyak bumi merupakan sumber bahan baku yang tidak dapat diperbarui,” ujarnya, Selasa (8/1/2019).

“Penggunaan surfaktan yang ramah lingkungan sangat diperlukan. Surfaktan yang dihasilkan oleh mikroorganisme tertentu ketika ditumbuhkan dalam media dan kondisi tertentu atau yang disebut Biosurfaktan menjadi pilihan untuk kebutuhan ini,” dia menambahkan.

Sementara itu, Prof. Sri Hartati mengatakan, penelitian yang ia lakukan dapat disimpulkan bahwa Indonesia merupakan negara paling kaya di dunia akan spesies anggrek. Sebanyak 5.000 – 6.000 spesies dari 25.000 – 30.000 spesies anggrek dunia ada di Indonesia.

Menurutnya, anggrek di Indonesia memiliki potensi manfaat yang besar yakni potensi keindahan, potensi sebagai ramuan obat, potensi sebagai bahan makanan, potensi sebagai parfum. Oleh karena itu, anggrek merupakan komoditas ekspor penghasil devisa negara.

“Tanaman anggrek merupakan salah satu tanaman hias asal Indonesia yang banyak disukai oleh masyarakat karena keindahan bunganya. Tanaman ini di samping memiliki daya pesona juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi sebagai penghasil devisa negara sehingga sangat prospektif untuk dibudidayakan,” ujar Sri Hartati.

Prof. Sri Hartati merupakan guru besar ke-198 di UNS dan ke-28 di FP. Sedangkan Prof. Venty Suryanti merupakan guru besar ke-197 UNS dan ke-14 di FMIPA. (MJ-25)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.