Uji Kadar Protein Cukup dengan Bulu Ayam

Selain api dan bulu ayam, penciuman menjadi faktor utama untuk mengetahui kandungan protein di dalam makanan.

KENDAL – Bulu ayam ternyata bermanfaat untuk mengetes kadar protein pada makanan. Tidak butuh bahan kimia, hanya lilin dan bulu ayam bisa untuk mengetahui makanan tersebut mengandung protein atau tidak. Alat sederhana mengetes kadar protein ini diciptakan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang dan dipamerkan dalam unjuk karya praktik program pintar di pendopo Kabupaten Kendal, belum lama ini.

Mahasiswa UIN Walisongo Semarang sedang menjelaskan kerja alat tes sederhana kadar protein kepada siswa sekolah dasar dalam Unjuk Karya Praktik Program Pintar Tanoto Foundation di Pendopo Kendal. Foto: metrojateng.com/edi prayitno

Dengan menggunakan api dan bulu ayam saja mahasiswa UIN Walisongo Semarang ini memperagakan cara sederhana mengetahui kadar protein yang terkandung dalam makanan. Selain api dan bulu ayam, penciuman menjadi faktor utama untuk mengetahui kandungan protein di dalam makanan.

Meski tingkat keakuratan masih berkisar 50 persen, namun setidaknya alat sederhana ini bisa membantu mengetahui kadar protein pada makanan sebelum dimakan. Cara kerja alat sederhana ini hanya membakar bahan makanan yang akan dites atau diuji kadar proteinnya.

“Setelah dibakar sebagai pembanding untuk mengetahui kadar protein  bakar juga bulu ayam pada api. Kemudian bulu ayam yang dibakar dicium lalu dilanjutkan dengan bahan makanan yang juga dibakar. Jika bau yang dihasilkan sama seperti bulu ayam maka makanan tersebut mengandung protein,” ujar Rahmatun Nisa mahasiswa UIN Walisongo.

Ditambahkan alat ini sangat sederhana hanya membutuhkan bulu ayam, sedangkan untuk mengecek lebih lanjut kadar proteinnya bisa menggunakan cairan kimia.

Tidak hanya menciptkan alat untuk mengetahui kadar protein ditampilkan juga alat sederhana untuk mengetahui kadar borak dalam makanan. “Untuk mengetes kadar borak hanya butuh tusuk gigi dan kunyit. Cara kerjanya cukup menusukan ke kunyit kemudian ditusukkan pula ke makanan yang akan dites. Jika warna bekas kunyit berubah lebih pekat maka bahan makanan tersebut mengandung pengawet atau borak,“ imbuhnya.

Unjuk karya praktik program pintar diapresiasi Bupati Kendal Mirna Annisa, karena menjadi wahana belajar yang mudah dan sederhana untuk pelajar. “Pemerintah Kabupaten Kendal terus mendorong inovasi baru dalam pembelajaran namun tetap mengedepankan mentalitas siswa agar lebih berkarakter,” kata bupati.

Sementara itu dewan pembina Tanoto Foundation, Belinda Tanoto mengatakan program pintar ini untuk meningkatkan kualitas guru dalam memberikan pembelajaran kepada siswa.

“Dalam unjuk karya praktik program pintar  in iditampilkan juga karya siswa dari 24 sekolah tingkat sekolah dasar, madrasah ibtidaiyah, sekolah menengah atas dan madrasah tsanawiyah,” katanya. (MJ-01)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.