Tuding Banyak Pedagang Siluman di Pasar Wonodri 

Sebagian pedagang yang sebelumnya memiliki izin dasaran resmi di pasar lama, menuding pengundian lapak tidak dilakukan secara adil.  

pedagang usai mengikuti pengundian lapak Pasar Wonodri, Sabtu (19/1/2019). 

 

SEMARANG – Setelah selesai dibangun, Dinas Perdagangan Kota Semarang melakukan pengundian lapak Pasar Wonodri. Sebagian pedagang yang sebelumnya memiliki izin dasaran resmi di pasar lama, menuding pengundian lapak tidak dilakukan secara adil.

Mereka berharap pedagang yang memiliki izin dasaran resmi dan sudah puluhan tahun berjualan di pasar lama, diprioritaskan untuk menempati pasar baru di lantai dasar.

Namun ternyata banyak pedagang ‘siluman’ atau pedagang baru yang sebelumnya tidak memiliki lapak di pasar lama, tiba-tiba terdata sebagai pemilik lapak. Bahkan kemudian mendapatkan lapak di lantai dasar. Sedangkan pedagang yang memiliki izin dasaran malah justru menempati kios di lantai dua.

‘’Sekarang lantai dasar malah ditempati para pedagang yang sebelumnya tak memiliki izin dasaran. Bahkan ada pedagang baru yang sebelumnya tak memiliki lapak. Kami berharap, para pemilik izin dasaran di pasar lama diprioritaskan untuk menempati bangunan lantai dasar,’’ kata Bu Wasimin (59), salah satu pedagang usai mengikuti pengundian lapak Pasar Wonodri, Sabtu (19/1/2019).

Ditambahkan, para pedagang yang memiliki izin dasaran, saat menempati pasar lama tiap tahun selalu memperbaharui izin. Tiap hari mereka juga ditarik retribusi sebesar Rp 2.000/lapak.

‘’Saya sendiri sudah 35 tahun berjualan di Pasar Wonodri. Kalau tiba-tiba pedagang baru diprioritaskan untuk memperoleh lapak di lantai dasar, tentu sangat tidak adil,’’ tegas warga Wonodri Baru ini.

Pedagang lainnya, Bu Sayono (50), juga menyampaikan hal yang sama. Wanita yang sudah berjualan sembako dan bumbon sekitar 30 tahun di Pasar Wonodri ini merasakan ketidakadilan dalam pembagian kios di Pasar Wonodri yang baru. Lantai dasar pasar, kebanyakan malah diisi para pedagang yang sebelumnya tidak memiliki lapak di Pasar Wonodri lama.

‘’Sedangkan pedagang yang memiliki izin resmi malah ditempatkan di atas. Padahal saat pasar dibangun, kami juga tetap membayar retribusi meski kami menempati kios sementara,’’ tegasnya. (duh)

 

 

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.