Tolak Penggusuran Pasar Pahingan, Seniman Magelang Gelar Aksi

image
seorang Seniman Magelang Andre Topo mengusung pikulan bertuliskan 'Save pahingan" di depan kantor DPRD Kota Magelang, Kamis (28/7). Mereka yang tergabung dalam Forum Masyarakat Menolak relokasi Pasar Pahingan minta doa restu dari dewan agar pasar pahing ini tetap dipertahankan keberadaannya. (foto: ch kurniawati)

MAGELANG – Perjuangan menolak kebijakan Walikota Magelang yang akan memindahkan pasar pahing ke Car Free Day (CFD) di lapangan Rindam IV Diponegoro, terus berlanjut. Sekelompok masyarakat yang tergabung dalam Forum Masyarakat Menolak Relokasi Pasar Pahingan, melakukan aksi teatrikal di depan gedung DPRD Kota magelang, Kamis (28/7). Sebuah pikulan bertuliskan “Save Pahingan” di usung. Andre Topo, seorang seniman. Dengan muka di cat putih, Andre dengan tertatih-tatih menyeret kertas bertuliskan ‘Selamatkan Tradisi”. Iapun terus melakukan aksi teatrikal yang menggambarkan perjuangan pedagang untuk bisa bertahan di lokasi yang akan digusur.
Andre mengatakan, dia bersama rekan-rekan yang peduli dengan keberadaan pasar Minggu Pahing yang ada di Kauman hingga Alun-alun Kota Magelang, akan terus memperjuangkan keberadaan pasar ini. Alasannya sangat jelas, pasar ini sudah ada sejak tahun 1958 dan hanya ada sekali dalam tempo 35 hari. “Ini warisan budaya yang sudah lama keberadaannya. Kenapa mau digusur,” tanya Andre.
Kedatangan forum ke gedung wakil rakyat ini, untuk meminta restu agar keberadaan pasar Minggu Pahing bisa terus dilestarikan. “Kami ingin minta restu dari para wakil rakyat agar pasar minggu pahing yang sudah ada sejak tahun 1958 bisa terus dilestarikan tidak malah digusur,” kata Andre.
Hendrik, anggota forum yang lain juga minta agar pemerintah tetap memerpertahankan keberadaan pasar pahing ini. “Kami bukan menentang, namun hanya ingin memohon agar pasar pahing ini dipertahankan keberadaannya,” katanya.
Pasar pahing sudah melekat dengan pengajian Minggu Pahing yang diadakan setiap 35 hari sekali. “Justri kami minta agar pasar pahing di tata bukan digusur. Keberadaannya merupakan cermin dari Kota Magelang yang peduli warisan budaya,” imbuh Hendrik.
Ia juga menyatakan keheranannya dengan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah kota Magelang melalui SE Dinas Pengelolaan Pasar Nomor 511.3/283/260 tertanggal11 April 2016dan nomor 511.3/271/260 tertanggal 9 mei 2016, yang melarang pedagang pasar Pahingan untuk berdagang.
“Bagaimana bisa sebuah intangible heritage (peninggalan budaya non bendawi) ditiadakan dengan dalih variabel ekonomi dan keindahan kota semata. Jelas ini sebuah penghinaan pada sejarah, pada nilai-nilai spiritualitas yang terkandung di dalamnya dan melupakan semasekali kearifan lokal,” katanya.
Yang lebih mengherankan, pemerintah seperti menganaktirikan pasar pahing, karena di sisi lain justru membuat pusat Kuliner Tiin Van Java, kemudian angkringan masih dipertahankan. Bahkan sesaat sebelum lebaran Alun-alun juga digunakan untuk berdagang para PKL selama berhari-hari lamanya. Di setiap event yang diadakan di Alun-alun juga ada pameran UMKM.”Jadi apa yang salah dengan pasar pahingan,” tanya Hendrik.
Pegiat Kota Toea Magelang, Bagus Priyana menambahkan, keberadaan Pasar Pahingan telah menjadi ikon. Selain, keberadaan Water Toren, Pasar Pahingan juga telah menjadi ikon kota Magelang. Ia menyebutkan, kalau pasar Pahingan akan direlokasi, Kota Magelang kehilangan sebuah sejarah. Keberadaan Pasar Pahingan dan pengajian Minggu Pahingan seperti mata uang. Kami minta keberadaan Pasar Pahingan tetap lestari sampai kapanpun,” pintunya.
Ia menceritakan, salah satu pedagang yang khusus menjual kacang godog. “Setiap minggu pahing ia khusus menjual kacang godog. Laku tidak laku ia tetap berjualan kacang godog. Yang dicari dari penjual itu bukan hanya keuntungan semata, namun juga berkah dari pengajian yang digelar di masjid Agung Kauman,” ceritanya.
Forum ini akan terus berjuang untuk mempertahankan pasar pahing. Bila di DPRD tidak ada solusi, maka mereka berencana akan menuju ke Semarang menemui Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Bila di masih belum ada solusi juga, maka mereka akan menuju ke Jakarta menemui Presiden Jokowi demi mempertahankan Pasar pahingan.”Kalaupun tidak bisa lagi, kita akan mengadukan masalah ini kepada Tuhan,” kata Bagus.
Sementara itu, Ketua DPRD Kota Magelang HY Endi Darmawan mengatakan, akan menampung semua masukan yang disampaikannya. Sejauh ini, apa yang pernah disampaikan masih didiskusikan. Pihaknya, nantinya akan segera menyampaikan apa yang disampaikan kepada eksekutif. (MJ-24)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

− 1 = 6

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.