Tolak Ambil Alih Lahan, Alumni SMA 1 Tegal Gelar Aksi Damai

Aksi turun ke jalan itu dilakukan sebagai bentuk kepedulian dan keprihatinan akan persoalan sengketa lahan SMA Negeri 1 Tegal dengan PT KAI.

TEGAL – Sejumlah alumni SMA Negeri 1 Kota Tegal yang tergabung dalam Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Tegal (Ikasmansa) turun ke jalan melakukan aksi damai, Jumat (11/1/2019) siang. Mereka menolak wacana ambil alih lahan yang akan dilakukan PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Para Alumni SMA Negeri 1 Kota Tegal melakukan aksi damai di depan sekolah mereka, tepatnya di Jalan Menteri Supeno. Foto : metrojateng.com/ adithya

Aksi yang berlangsung di Jalan Menteri Supeno tersebut mendapat pengawalan dari Kepolisian. Dalam aksinya, sejumlah massa membentangkan spanduk di depan SMAN 1 Kota Tegal dengan berbagai tulisan penolakan.

Massa yang sambil membentangkan spanduk, juga meneriakkan yel-yel serta memanjatkan doa. Sebelumnya, mereka terlebih dahulu membubuhkan tandatangan di spanduk.

Ketua Ikasmansa, Tafakurrozak mengatakan, aksi turun ke jalan itu dilakukan sebagai bentuk kepedulian dan keprihatinan akan persoalan sengketa lahan SMA Negeri 1 Tegal dengan PT KAI.

“Ini bentuk kepedulian kami, para alumni atas sengketa lahan SMAN 1. Kami merasa prihatin dengan kasus ini, karena kami merasa memiliki di lahan itu sebagai almameter kami,” ungkap Ketua Ikasmansa, Tafakurrozak.

Selain itu, lanjut Tafakurrozak, para alumni juga merasa bangunan SMA Negeri 1 Tegal memiliki nilai sejarah tersendiri. Dari sekolah tersebut juga banyak mencetak orang-orang sukses.

“Kami mengajak kepada seluruh pihak untuk mengedepankan musyawarah dalam persoalan sengketa lahan dengan PT KAI,” imbuhnya.

Selain itu, pihaknya juga mengimbau agar seluruh pihak PT KAI, Kementerian BUMN, Kemendagri, Kemendikbud agar duduk dan mencari solusi terbaik. Atau penyelesaian masalah bisa menggunakan restorasi justice dengan mempertimbangkan keberlangsungan dalam proses belajar-mengajar di sekolah.

“Awal mula sengketa lahan terjadi ketika PT KAI mengajukan gugatan atas penerbitan sertifikat hak pakai nomor 1 ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Adapun sertifikat lahan seluas 6.890 meter per segi tersebut sudah terbit sejak 1974,” tutupnya. (MJ-10)

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.