Tiga Remaja Bergiliran Setubuhi Gadis Bawah Umur di Kebun Pisang

Korban diberikan minuman keras jenis ciu hingga tak berdaya.

SEMARANG – Tiga remaja asal Bangetayu Kulon, Kecamatan Genuk, ditangkap polisi terkait kasus rudapaksa anak di bawah umur. Ketiganya secara bergiliran menyetubuhi korban di sebuah kebun pisang samping Posyandu Bangetayu Kulon. Sebelum disetubuhi, korban diberikan minuman keras jenis ciu hingga tak berdaya.

Ketiga tersangka dimintai keterangan oleh Kapolsek Genuk Kompol Zaenul Arifin.(metrojateng.com/Ahmad Khoirul Asyhar)

Tiga tersangka diketahui bernama JMS (19), WH (15), dan OTP (16). Seorang di antaranya tercatat masih sekolah di salah satu SMP di Kota Semarang sedangkan dua lainnya tidak sekolah. Ketiganya ditangkap belum lama ini di rumah masing-masing. Selain tiga orang itu, polisi masih memburu seorang tersangka lain yang diduga sebagai otak rudapaksa.

“Kami mengungkap kasus tindak pidana perlindungan anak. Perbuatan yang dilakukan adalah memberi minum korban sehingga tidak berdaya, setelah itu melakukan persetubuhan terhadap korban secara bergiliran. Korban berinisial RP masih berumur 15 tahun. Ada tiga tersangka yang ditangkap, satu orang DPO masih kami kejar. Identitasnya sudah ada,” kata Kapolsek Genuk, Kompol Zaenul Arifin, Rabu (7/8/2019).

Pengungkapan tersebut berawal dari laporan keluarga korban ke Mapolsek Genuk pada 26 Juli 2019. Petugas Unit Reskrim Polsek Genuk kemudian menyelidiki perkara tersebut dan menangkap tiga tersangka. Setelah diperiksa, ketiga tersangka mengaku perbuatan tersebut terjadi lantaran terpengaruh miras jenis ciu.

“Perkara ini terungkap setelah keluarga menemukan korban dalam keadaan setengah telanjang. Sebelumnya keluarga korban curiga karena korban sekitar pukul 01.30 dini hari tidak ada di tempat tidurnya, lalu mereka mencari hingga ketemu di sebuah kebun samping Posyandu. Saat ditemukan korban dalam keadaan tidak sadar atau masih terpengaruh miras,” ungkapnya.

Tersangka WH mengaku sebelum menyetubuhi korban, ia bersama tiga rekannya dan juga korban minum miras jenis ciu. Para tersangka menenggak habis satu botol ciu sekitar 1,5 liter, sedangkan korban juga diberikan ciu yang sudah dicampur dengan softdrink.

Terkait kejadian tersebut, ketiga tersangka dikenakan Pasal 81 ayat (2) dan atau Pasal 76e jo Pasal 82 ayat (1) Undang-undang RI nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang RI nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Ancaman hukumannya maksimal 15 tahun penjara.

Selain itu, polisi kemudian melakukan razia miras di sekitar wilayah Genuk. Hasilnya ratusan liter miras terdiri atas delapan jeriken dan 10 botol ciu ukuran 1,5 liter disita. Polisi juga menangkap tiga penjual miras yang dikenakan sanksi tipiring.

“Pascakejadian itu, kami merazia penjual miras di wilayah Genuk. Ada tiga penjual yang diamankan dan akan diproses hukum,” pungkas Zaenul. (aka)

 

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.