Tidak Terbukti Bersalah, Dokter Alexander Divonis Bebas

Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Semarang menyatakan Alexander tidak terbukti melakukan tindak pidana penipuan dan penggelapan.

SEMARANG – Setelah tiga bulan berada di dalam Lapas Kedungpane Semarang, seorang dokter di Ngaliyan bernama Alexander Alif Nu’man akhirnya dibebaskan. Hal itu menyusul putusan dari majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Semarang yang menyatakan Alexander tidak terbukti melakukan tindak pidana penipuan dan penggelapan.

Dalam amar putusan PN nomor: 177/PID.B/2019/PN.SMG, tertanggal Rabu, 29 Mei 2019, majelis hakim yang dipimpin oleh hakim Bakri SH MHum, menyatakan terdakwa atas nama Alexander Alif Nu’man tidak terbukti melakukan perbuatan tindak pidana penggelapan tetapi perdata berupa utang kepada koperasi Maju Makmur Sejahtera (MMS). Selain itu hakim juga memerintahkan untuk mengembalikan Harkat, Kedudukan dan nama baik terdakwa Alexander¬† dan segera mengeluarkan dari tahanan.

Putusan tersebut dikeluarkan setelah dalam persidangan majelis hakim tidak menemukan alasan atau bukti perbuatan terdakwa telah melakukan tindak pidana. Maka atas saat pertimbangan itu terdakwa haruslah dinyatakan lepas dari tuntutan hukum.

Pertimbangan tersebut juga diperkuat dengan keterangan saksi manajer Koperasi MMS, Teguh Waluya, di persidangan yang mengatakan kalau Alexander memang utang di koperasi MMS.

Sementara itu, Alexander yang ditemui wartawan menjelaskan bagaimana duduk perkara yang menimpanya tersebut. Awalnya ia memang mengajukan utang kepada koperasi MMS senilai Rp 480 juta pada tahun 2014 silam. Setelah angsuran akan berakhir, Alexander mengajukan penambahan atau top up utang senilai Rp 780 juta.

“Tahun 2016 saya top up Rp 780 juta dengan jaminan tiga unit rumah. Pinjaman itu setelah satu tahun macet dan tidak dapat membayar. Jadi saya sempat membayar dengan lancar selama satu tahun, tidak ada niat saya untuk mengemplang atau menipu uang,” katanya saat ditemui, Senin (3/6/2019).

Dikarenakan angsuran macet, pada tahun 2018 bunga dan denda dimasukkan dalam tagihan. Hal itu membuat Alexander semakin tidak bisa membayar. Setelah itu Alexander digugat perdata oleh pihak koperasi dan diminta membayar sebesar Rp 1,2 miliar.

“Karena saya tidak bisa membayar kemudian saya dilaporkan tindak pidana penipuan dan penggelapan oleh pihak koperasi. Itu sekitar akhir tahun 2018. Lalu pada bulan Februari 2019 kasus pidana saya dinyatakan P21 dan saya ditahan di Lapas Kedungpane,” ungkapnya.

Setelah tiga bulan ditahan dan proses persidangan berjalan. Alexander akhirnya divonis bebas karena tidak terbukti melakukan tindak pidana. “Bukti saya lengkap kalau saya juga membayar dan tidak ada niat menipu atau menggelapkan. Hakim melihat itu murni sebagai perdata yakni utang piutang,” paparnya. (aka)

 

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.