Tiap Hari Ribuan Kulit Lunpia Diproduksi di Kampung Ini

Kulit lunpia ini dijual dengan harga Rp 40.000 per 100 lembar ukuran besar dan Rp 30.000 untuk ukuran sedang

SEMARANG – Kampung Kranggan Dalam menjadi sentra penghasil kulit lunpia di Semarang. Sebanyak 45 rumah menjadi tempat pembuatan kulit lunpia. Tidak heran, di siang hari setiap gang di kampung tersebut selalu disibukkan dengan pekerjaan industri rumahan. Laki-laki dan perempuan duduk di depan rumah untuk membuat pesanan kulit lunpia dari berbagai daerah.

Pembuatan kulit lunpia di Kampung Lunpia, Kranggan Dalam, Kelurahan Kranggan. Foto: metrojatang.com/ade lukmono

Bahan baku untuk membuat kulit lunpia adalah tepung terigu khusus yang ditambahkan garam dan diberi air hingga kekentalan yang diinginkan. Bahan tidak ditambahkan perasa lain agar rasa tetap netral dan lebih awet.

Kulit lunpia yang sudah jadi diangin-anginkan agar tidak basah, kemudian dibungkus dan bisa bertahan hingga satu pekan. Kulit lunpia ini dijual dengan harga Rp 40.000 per 100 lembar kulit lunpia ukuran besar. Sedangkan untuk ukuran sedang, dijual seharga Rp 30.000 per 100 lembar untuk ukuran sedang.

Cara membuat kulit lunpia terbilang unik, yaitu dengan cara memasukkan adonan dalam jumlah banyak ke dalam wajan, kemudian dengan cepat adonan kembali ditarik ke wadah. Dengan demikian, yang tersisa di wajan hanyalah kerak adonan yang tipis. Setelah itu, barulah kerak diangkat dan disebut menjadi kulit lunpia.

Kulit lunpia ini tidak hanya dijadikan kulit luar untuk kuliner lunpia. Kulit ini bisa dijadikan kulit pisang karamel, kulit martabak dan lainnya.

Pembuat kulit lunpia, Sumiati bisa memproduksi kulit lunpia lebih dari 5.000 lembar setiap harinya. Pembuatan kulit lunpia itu dikerjakan bersama tiga rekannya di depan rumahnya yang terletak di RT 2 RW I, Kelurahan Kranggan.

“Sehari kami bisa menghabiskan empat karung tepung, atau satu kwintal tepung terigu. Satu karung tepung bisa dibuat sekitar 1.400 lembar kulit lunpia,” kata dia, Kamis (27/9/2018).

Dia mengatakan, pesanan kulit lunpia tidak hanya berasal dari Kota Semarang, namun juga dipesan oleh pembeli dari Jakarta, Bandung, Kediri, Solo, bahkan Bali. Biasanya, pembuatan kulit lunpia dilakukan atas dasar pesanan.

Permintaan kulit lunpia ini biasanya membeludak dua kali lipat saat memasuki Lebaran. Untuk mengakomodasi lonjakan permintaan itu, biasanya Sumiati meminta bantuan pembuat kulit lunpia di sekitar agar pesanan dapat diselesaikan.

Suksesnya pemasaran kulit lunpia ini mendapat apresiasi dari anggota DPR RI, Juliari P Batubara. Dia berharap banyak industri rumahan di bidang lain yang bisa sukses dalam pemasaran seperti halnya kulit lunpia ini.

Namun ada hal yang disayangkan, yaitu kondisi lokasi yang masih kurang standar sebagai produsen kuliner, yaitu kebersihan dan kenyamanan. Oleh karena itu, dia berharap Pemerintah Kota Semarang memiliki program untuk memperbaiki kondisi Kampung Lunpia agar menjadi lebih baik.

“Ini adalah penghasil makanan. Jadi yang harus dijaga adalah pembuatan yang higienis, tempat bersih dan luas. Yang saya lihat tempatnya terkesan pengap dan sempit. Ini bisa membuat para pengrajin kulit lunpia menjadi cepat lelah, bahkan sakit,” katanya. (ade)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.