Tersangka Mengaku 70 Kali Mencuri untuk Foya-foya di Lokalisasi

Pria ini sempat “kebal hukum” dengan modal surat keterangan gangguan jiwa, bahkan juga kebal dengan amukan massa.

Suhantoro saat digelandang ke Mapolsek Semarang Barat untuk dimintai keterangan. (metrojateng.com/ahmad khoirul asyhar)

 

SEMARANG – Tersangka kasus pencurian, Suhantoro (48), warga asal Kaliwungu, Kabupaten Kendal, yang ditangkap tim Polsek Semarang Barat mengakui uang hasil curiannya digunakan untuk berfoya-foya dan “nampang” di depan cewek.

Pria yang sempat “kebal hukum” dengan modal surat keterangan gangguan jiwa itu juga kebal dengan amukan massa. Dari puluhan kali beraksi, ia beberapa kali tertangkap tangan massa dan dipukuli tetapi tidak pernah jera dan terus beraksi di lain hari.

Suhantoro mengakui telah beraksi kurang lebih 70 lokasi di wilayah Kota Semarang dan sekitarnya. Dari puluhan aksi tersebut, tersangka Suhantoro berhasil mendapatkan berbagai barang curian. Mulai motor hingga dompet berisi uang tunai.

“Kalau dapat motor buat nampang sama cewek. Kalau dapat uang buat beli obat dan foya-foya atau pergi ke SK (Resosialisasi Sunan Kuning – red),” ujarnya saat ditemui di Mapolsek Semarang Barat, Selasa (19/3/2019).

Salah satu aksi Suhantoro yang dilaporkan ke polisi adalah pencurian motor di Jalan Sri Rejeki, Semarang Barat, pada 9 Juni 2018 lalu, pukul 00.30. Setelah itu ia kemudian beraksi di sebuah rumah makan daerah Jalan Subali Raya, Krapyak sekitar pukul 01.30. Dua aksi di waktu yang berurutan itu dilakukan setelah ia berfoya-foya di Resosialisasi Sunan Kuning.

“Itu habis main di SK terus mencuri di sebelah SK. Dapat motor sama uang Rp 1 juta,” ucap Suhantoro.

Selain aksi tersebut, ia juga mengaku pernah beraksi pencurian di daerah Gedung Batu, Semarang Barat. Saat itu ia mencuri uang dalam bifet di rumah seorang kiai. Namun pencurian itu tidak dilaporkan ke polisi.

Suhantoro juga sudah berkali-kali tertangkap tangan saat beraksi. Bahkan ia juga sering menjadi sasaran amuk massa yang geram. Namun ia selalu bisa lolos dan berkilah kalau ia gila. “Sudah sering tertangkap. Sering dikeroyok orang juga,” ujarnya.

Kanit Reskrim Polsek Semarang Barat AKP Sutarno mengatakan modus yang dilakukan tersangka adalah mencari kelengahan korban. Jika tepergok warga, dia langsung berkilah meminta rokok, minum, atau lari.

“Jadi kalau ketangkap dan dimassa selalu mengeluarkan kartu kuning (surat keterangan gangguan jiwa). Aksinya rata-rata dilakukan saat subuh dan siang. Tersangka ini untung-untungan kalau beraksi,” jelasnya.

Terkait kartu atau surat gangguan jiwa, Polsek Semarang Barat sudah beberapa kali menangkapnya tetapi waktu itu tidak cukup bukti. Namun pada aksi bulan Juni 2018, tersangka tidak dapat mengelak. Terlebih saat polisi mengirim tersangka ke Rumah Sakit Jiwa Amino Gondohutomo untuk observasi. Hasilnya disimpulkan bahwa perbuatan tersangka dapat dipertanggungjawabkan sehingga dapat diproses hukum.

“Prosesnya lama karena menunggu hasil observasi dari rumah sakit. Begitu hasil keluar langsung kami proses hukum. Ia tidak dapat mengelak lagi,” pungkas Sutarno. (aka)

 

Ucapan Lebaran 1440
Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.