Teror Perusakan Makam di Magelang Terungkap

Pelaku Seorang Diri

Pelaku pernah rawat jalan di RSJ Dr Soerojo karena mengalami depresi pada April 2017

MAGELANG – Heboh kasus perusakan makam di Kota Magelang akhirnya terungkap. Pelaku yang diduga mengalami gangguan kejiwaan itu diamankan pada Jumat (4/1) malam usai beraksi di TPU Candi Nambangan, Magelang Tengah.

Kapolres Magelang Kota, AKBP Kristanto Yoga Darmawan dan pejabat terkait serta perwakilan FKUB Kota Magelang menunjukkan barang bukti hasil ungkap kasus perusakan makam, Sabtu (5/1/2019). Foto: metrojateng.com/ch kurniawati

Kapolres Magelang Kota, AKBP Kristanto Yoga Darmawan mengungkapkan, terduga pelaku berinisial FBK (20) warga Karang Kidul Kelurahan Rejowinangin Selatan Kota Magelang. 

Kristanto menuturkan, aksi FBK diketahui oleh warga yang saat itu mendengar bunyi benturan dari arah TPU Candi Nambangan. Saat itu saksi, langsung mencari sumber suara yang mencurigakan.

“Malam itu saksi memergoki pelaku sedang berada dalam makam dan ditegur oleh saksi. Saat didekati, saksi melihat ada dua makam yang dirusak dan melihat pelaku membawa palu besi. Saat itu juga, saksi mengambil palu gada itu dan mengamankan pelaku,” tutur Kristanto saat gelar perkara di Mapolres Magelang Kota, Sabtu (5/1/2019).

“Saat itu pelaku ditegur warga dan bilang hanya main saja. Namun saksi curiga dan melihat ada dua nisan yang dirusak,” terangnya.`

Selanjutnya polisi melakukan pendalaman terhadap pola perusakan di tiga TKP lainnya yaitu TPU Giriloyo, TPU Kiringan dan TPU Malangan atau Tidar Krajan. Berdasarkan keterangan saksi di TPU Kiringan, menurut Kristanto, ada kecocokan identik pelaku yang sama.

Kepada petugas, pelaku mengaku melakukan perusakan hanya seorang diri. Dia ditangkap di rumahnya tanpa perlawanan pada Jumat malam sekira pukul 21.30.

Kristanto memastikan, jumlah makam yang dirusak berjumlah 23 buah dari empat TKP di Kota Magelang. Rinciannya, 11 makam nasrani dan satu makam muslim di TPU Giriloyo, TPU Kiringan enam nisan makam nasrani dan dua makam muslim, TPU Malangan satu makam muslim, dan terakhir TPU Nambangan sebanyak dua makam nasrani.

Kristanto meyebutkan, pelaku merupakan lulusan Madrasah Aliyah dan pernah bekerja sebagai security di salah satu perusahaan pembiayaan di Kota Magelang. Dia memastikan FBK tidak terkait dengan jaringan apapun.

Depresi

“Berdasar informasi dari tetangganya bahwa pelaku pernah rawat jalan di RSJ dr Soerojo Magelang,” imbuh Kristanto.

Dari data yang ada, menurut Kristanto, pelaku memang benar pernah rawat jalan karena mengalami depresi pada April 2017 lalu, dan selanjutnya dilakukan pengobatan alternatif selama satu bulan di wilayah Kalibawang Kulonprogo Yogyakarta. Namun selama satu bulan disana, pelaku tidak kerasan  dan kemudian kembali ke Magelang.

“Memang benar pelaku punya masalah kejiwaan. Terlebih saat menjalankan aksinya, pelaku berjalan kaki,” tandas Kristanto.

Meskipun demikian, Kristanto memastikan, pelaku akan tetap dijerat pasal 406 KUHP dan atau pasal 179 KUHP dengan ancaman masing-masing dua tahun delapan bulan dan pada pasal 179 ancaman hukuman satu tahun empat bulan.

“Proses hukum akan tetap berjalan. Masalah batal atau gugurnya, itu kewenangan kejaksaan. Pelaku akan kami lakukan observasi melibatkan  RSJ dr Soerojo untuk memastikan kondisi kejiwaan, mungkin hari ini atau maksimal besok,” papar Kristanto.

Pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Magelang, H Towil mengapresiasi kerja keras kepolisian yang berhasil mengungkap aksi perusakan makam yang meresahkan masyarakat.

“Kami apresiasi hasil kerja keras polisi karena tidak begitu lama, mampu mengungkap kasus ini. Mudah-mudahan masyarakat bisa mendapatkan jawaban yang jelas,” tukas Towil. (MJ-24)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.