Terkuak! Dugaan Penyebab Jatuhnya Heli Basarnas di Gunung Buthak

?

SEMARANG – Misteri penyebab kecelakaan maut di tebing Gunung Butak, Desa Canggal, Kecamatan Candiroto, Temanggung akhirnya sedikit demi sedikit mulai tersingkap. Hidayatul Mukhtar, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Ahmad Yani Semarang, mengungkapkan dalam citra satelit, cuaca diatas langit Gunung Butak saat kejadian terpantau berawan.

Ia menyebut kondisi itu cukup clear alias aman untuk melakukan aktivitas penerbangan. Kecepatan angin saat itu berada pada kisaran 9-15 kilometer per jam menuju arah utara. Hal itu terdeteksi pukul 16.00 WIB-17.00 WIB sore.

“Keadaan cuaca tidak ada masalah untuk penerbangan, terutama dari bandara hingga rute penerbangan,” akunya saat di Kantor Basarnas Jateng, Selasa (4/7).

Walau demikian, karena berada di titik pegunungan kemungkinan penyebab kecelakaan dipicu kabut yang mendadak muncul. Menurutnya gejala alam ini kerap disebut sebagai gerakan kabut up and down yang biasa muncul dari dasar lembah.

“Kami tidak dalam posisi menyimpulkan. Di lokasi ada empat gunung yang bisa saja menyebabkan adanya gejala-gejala alam yang tidak terdeteksi,” ungkap Hidayatul.

Tak hanya itu saja, katanya penglihatan mendatar dari dalam helikopter bisa mencapai delapan kilometer.
Ia menyatakan gejala kemunculan kabut up and down itu tak bisa dipantau radar BMKG. Radarnya hanya mampu memantau kandungan air, sehingga kalau ada kabut yang mendadak muncul dan hilang tidak bisa terdeteksi.

“Perlu pantauan langsung dari petugas yang ada di lapangan untuk gejala semacam itu,” tegasnya.
Di sisi lain, Airnav ketika kejadian sudah siaga penuh karena berbarengan dengan arus balik.

General Manager Airnav Indonesia Cabang Semarang, Kristanto menjelaskan pada 15.00, penerbang meminta izin untuk terbang setinggi 3.000 feet menuju Dieng kemudian diizinkan terbang dengan berbagai catatan kondisi rute yang relatif.

“Jarak pandang di Ahmad Yani Semarang saat itu mencapai delapan kilometer dan kecepatan angin masih wajar. Kami berkoordinasi dengan BMKG yang kemudian memberi kesimpulan bahwa cuaca di sepanjang rute dalam kondisi cerah,” paparnya saat dipanggil di Kantor Basarnas Semarang, Selasa (4/7).

Pada pukul 16.03 heli bertolak menuju Dieng dan diprediksi bisa mencapai lokasi pada 20 menit ke depan. Namun hingga pukul 19.00 tidak ada laporan dari penerbang kepada Airnav sehingga kemudian Airnav cabang Semarang memverifikasi keberadaan heli tersebut ke pusat.

Sebelumnya, Deputi Bidang Potensi SAR, Dodi Trysunu menjelaskan bahwa pada 16.17 pihaknya sudah kehilangan kontak dengan heli yang ditumpangi delapan personel dari Basarnas dan TNI Angkatan Laut tersebut.

“Pada saat hilang kontak tersebut Local User Terminal (LUT) kami mencatatkan koordinat terkahir posisi heli. Namun saat pencarian di lapangan pada 19.00 posisi ternyata melenceng sekitar empat kilometer,”

Basarnas terdekat, yaitu Basarnas Jepara, Yogya dan Cilacap yang sedang bertugas di wilayah Dieng menuju lokasi jatuhnya heli. Pada 20.00, barulah tiga personel dievakuasi dalam keadaan tidak bernyawa. Menyusul korban lainnya hingga selesai pada Senin (3/7) 02.00 dini hari.

Sedangkan Ketua Komisi V DPR RI Fary Djemi Francia mencurigai terbatasnya alat pemantau BMKG lantaran anggaran instrumen cuaca telah dipangkas oleh pemerintah pusat.
“Makanya kami sangat keberatan saat anggaran BMKG terkait instrumen cuaca dipotong tahun ini. Sebab akibatnya fatal. Hal-hal yang terkait pemantauan cuaca tidak berjalan dengan maksimal,” tandasnya. (far/ade)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

12 − 11 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.