Terkena Tol, Lahan SMPN 16 Tinggal Separo, Relokasi Masih Dikaji

Dinas Pendidikan Kota Semarang menyatakan masih mengkaji kemungkinan merelokasi secara keseluruhan sekolah itu, atau cukup hanya sekadar melakukan revitalisasi sekolah.

Rapat koordinasi Dinas Pendidikan dengan Komisi D DPRD Kota Semarang membahas sekolah yang terkena proyek tol Semarang-Batang. (istimewa)

 

SEMARANG – Hingga saat ini persoalan SMP Negeri 16 Kota Semarang yang sebagian lahannya terkena pembebasan untuk proyek tol Semarang-Batang masih belum tuntas. Dinas Pendidikan Kota Semarang menyatakan masih mengkaji kemungkinan merelokasi secara keseluruhan sekolah itu, atau cukup hanya sekadar melakukan revitalisasi sekolah.

‘’SMPN 16 sesuai kesepakatan ada ganti rugi atas tanah, bangunan, tanaman dan lainnya, luas SMP ini 9.062 m2. Tapi bukan titik fungsional atau sentral jalan tol. Tahap satu kena (pembebasan) 1.777 m2, dari jumlah itu masih ada akses ke Jalan Prof Hamka. Kami sudah ajukan ke Sekda untuk penghapusan aset (lahan yang sudah kena pembebasan) dan saat ini sudah diproses,’’ ungkap M Buyung Nasution, dari Dinas Pendidikan Kota Semarang saat rapat koordinasi dengan Komisi D DPRD Kota Semarang, Rabu (13/2/2019).

Buyung menjelaskan, setelah terkena pembebasan lahan 1.777 m2, perkiraan dari sisa lahan sekitar 7.000 m2 sekolah masih bisa berjalan lancar. Tapi kemudian ternyata terkena pembebasan lahan lagi tahap kedua sebesar 1.889 m2. Sehingga sisa lahan sekolah tinggal hanya separo atau sekitar 5.403 m2.

‘’Ini yang kemudian menjadi polemik. Karena standar unit sekolah baru (pembangunan sekolah baru) kalau sesuai aturan Permendiknas lahannya cukup 4.100 m2. Sehingga sekolah tidak perlu untuk direlokasi, tapi cukup hanya dilakukan revitalisasi,’’ ujarnya.

‘’Tapi di sisi lain SMP 16 merupakan sekolah reguler, bukan unit sekolah baru. Dan kebutuhan lahannya sesuai di lapangan 7.695 m2 (padahal sisanya hanya 5.403 m2), untuk ruang dan fasilitas. Maka kemungkinan perlu untuk relokasi. Ini yang perlu dicarikan solusi,’’ lanjutnya.

Namun pihaknya mengatakan, tetap menyiapkan kedua opsi tersebut yaitu merevitalisasi atau merelokasi. Jika direvitalisasi maka yang perlu jadi pertimbangan, saat ini SMP 16 sudah tidak punya akses ke jalan utama yaitu Jalan Prof Hamka. Jika direvitalisasi sekolah juga harus dibangun minimal empat lantai, dimana tentu harus dilihat kelayakannya.

Selain itu, karena tidak ada akses utama maka kemungkinan akan terjadi krodit di Jalan Solanji. Padahal jalan tersebut notabene merupakan jalan kampung sehingga akan mengganggu ketertiban umum.

Sedangkan jika dilakukan relokasi, sampai saat ini belum ditemukan tempat yang cocok untuk memindah SMP 16 tersebut. Sampai saat ini Pemerintah Kota Semarang masih mencari lokasi yang tepat berdasarkan kategori-kategori yang ditentukan untuk keamanan dan kenyamanan.

‘’Lokasi untuk relokasi sekolah tersebut nantinya akan diajukan oleh bagian aset Kota Semarang ke pihak Jasa Marga. Lahan tersebut nantinya diharapkan akan dibayar oleh Jasa Marga sebagai ganti rugi kepada pemerintah kota,’’ katanya. (duh)

 

 

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.