Terjangkit Difteri, Gadis Cilik di Bangetayu Alami Pembengkakan Leher

SEMARANG – Seorang anak perempuan berinisial A terpaksa dirawat di ruang isolasi Bangsal Anak, RSUP Dr Kariadi, Semarang, lantaran terjangkit virus difteri.

Imunisasi untuk mencegah wabah difteri di Semarang. Foto: fariz fardianto

Dokter spesialis anak di RSUP Dr Kariadi, dr Hapsari SpA (K), menyatakan gadis kecil itu didiagnosis menderita difteri stadium rendah.

Menurutnya, A yang tinggal di Perum Korpri, Bangetayu Genuk, itu dirawat di rumah sakitnha sejak Sabtu (21/7) malam kemarin lantaran mengeluhkan pembengkakan pada bagian lehernya.

Setelah dibawa ke IGD, si pasien juga mengalami nyeri saat menelan. “Untuk memberikan perawatan lebih lanjut, pasien berinsial A harus ditempatkan di ruang isolasi,” kata Hapsari, Senin (23/7).

Ia menyebut jumlah pasien suspect difteri kini bertambah enam orang. Hal ini karena sebelumnya, rumah sakitnya sudah lebih dulu menerima lima pasien lainnya yang berasal dari satu keluarga yang tinggal di Kampung Dong Biru, Genuksari. Seorang di antaranya inisial BN mengembuskan napas terakhirnya tiga hari lalu.

Untuk perkembangan kesehatan empat pasien dari Genuksari itu, tuturnya saat ini mulai menunjukkan kondisi yang membaik.

Ada empat orang yang sudah dipindahkan ke bangsal umum. Secara diagnosis medisnya, Hapsari menyatakan mereka mulai menunjukkan perkembangan kearah yang positif.

Hapsari mengaku sangat prihatin dengan maraknya wabah difteri di Kota Semarang belakangan ini. Terlebih sejak Desember 2017 hingga Juli 2018 sudah ada 23 pasien positif difteri yang dirawat di RSUP dr. Kariadi, Semarang.

Ia menyarankan kepada para orangtua bahwa difteri bisa dicegah hanya dengan pemberian imunisasi atau vaksinasi.

“Makanya, saya imbau kepada ibu-ibu untuk rajin memvaksin anak-anaknya. Sekolah juga jangan melarang petugas dari puskesmas untuk masuk sekolah. Ada itu di Semarang sekolah yang melarang atau tidak memperbolehkan puskesmas masuk,” tegasnya.

Kendati sudah banyak warga Semarang yang menderita defteri, Hapsari tak mau berkomentar ketika ditanya apakah Semarang sudah jadi zona merah atau dalam kategori kasus luar biasa (KLB).

“Itu wewenang yang punya kota untuk
menaikan status menjadi KLB (Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi),” tandasnya.

Imunisasi Massal

Sementara, Dinas Kesehatan Kota Semarang menyatakan telah melakukan imunisasi di Kelurahan Genuksari dan Bangetayu Wetan menyusul kejadian KLB Difteri di daerah tersebut yang terjadi beberapa hari ini. Imunisasi dilakukan kepada seluruh anak di bawah usia 12 tahun.

‘’Mulai Jumat kemarin (20/7) tim kami sudah mengimunisasi anak-anak usia di bawah 12 tahun. Ini dilakukan karena warga di sana yang sering berinteraksi dengan penderita,’’ kata Kepala Dinas Kesehatan, Widoyono, Senin (23/7).

Ia menyebutkan upaya ini dinamakan dengan ORI (Outbreak Respons Immunization), yaitu upaya imunisasi yang dilakukan setelah KLB wabah difteri tanpa memandang status imunisasi. Dengan jalan imunisasi ini penyakit difteri akan terlindungi.

‘’Penyakit difteri kalau sudah diimunisasi Insya Allah terlindungi. Ya 100 persen sih tidak, tapi Insya Allah perlindunganya ada. Penularan peyakit ini melalui kontak bicara dengan orang difteri secara intens dan terus menerus,’’ terangnya. (far/duh)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

− 4 = 1

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.