Tercatat Empat Kasus, Praktik “Cyber Crime” WNA Dikendalikan dari Semarang

Jaringan penipuan “cyber crime” ini sengaja mencari tempat rumah mewah yang kondisi lingkungannya tidak ramai.

SEMARANG – Tercatat empat kasus sindikat warga negara asing (WNA) melakukan praktik kejahatan cyber crime dikendalikan dari Kota Semarang. Mereka menggunakan rumah mewah sebagai kantor atau pusat operator.

40 WNA asal Taiwan dan Tiongkok di sebuah rumah Jalan Puri Anjasmoro Blok M2 nomor 11, Semarang Barat, pada Kamis (18/4/2019) lalu. (metrojateng.com/ahmad khoirul asyhar)

 

Terakhir adalah penindakan terhadap 40 WNA asal Taiwan dan Tiongkok di sebuah rumah Jalan Puri Anjasmoro Blok M2 nomor 11, Semarang Barat, pada Kamis (18/4/2019) lalu.

Sebelum penindakan yang dilakukan oleh petugas Imigrasi tersebut, sudah ada tiga penindakan terhadap praktik serupa. Pertama pada bulan Juli 2014 di Jalan Papandayan nomor 73, Gajahmungkur, Semarang, dengan 33 orang WNA asal Korea diamankan. Kedua, penggerebekan sebuah rumah mewah di Jalan Merapi nomor 18, Gajahmungkur, Semarang, pada Selasa 28 April 2015. Rumah di Papandayan tersebut dihuni sekitar 40 WNA. Ketiga, penggerebekan rumah mewah di Jalan Kawi Raya Nomor 48, Candisari, Semarang, pada Minggu 23 Juli 2017.

Direktur Reskrimsus Polda Jateng Kombes Pol Hendra Suhartiyono, mengatakan, banyaknya kejadian serupa di Semarang karena ada beberapa faktor. Salah satunya adalah jaringan penipuan dalam ranah cyber crime ini sengaja mencari tempat yang lingkungannya tidak ramai.

“Kenapa di Semarang? Jakarta dan Bali terlalu padat. Maka mereka mencari tempat yang relatif tidak banyak penduduknya. Bukan kotanya, tetapi lingkungannya yang tidak ramai seperti di daerah elite,” katanya saat ditemui di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Semarang, Senin (22/4/2019).

Menurutnya, pemilihan tempat yang relatif tidak banyak penduduknya tersebut untuk menghindari kecurigaan warga dan deteksi dari aparat seperti RT/RW. “Kalau di Semarang itu agak ekslusif, di tempat mewah yang tidak mudah dideteksi oleh aparat seperti RT/RW. Jadi orang-orang tidak akan banyak yang curiga, kalau di Jakarta dan Bali itu kan ramai jadi banyak kecurigaan,” terang Hendra.

Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Agus Triatmaja menambahkan, pengungkapan ini adalah yang kesekian kalinya di Semarang. Hal itu akan menjadi bahan evaluasi dan pemetaan bagi kepolisian terhadap kejadian serupa. Pengetatan pantauan di kawasan-kawasan elite juga akan dilakukan.

“Ini menjadi pengalaman dan bahan evaluasi bagi kepolisian, jangan sampai terjadi lagi ke depannya. Tadi disampaikan bahwa lokasi di perumahan elit itu menjadi pertimbangan untuk memetakan lagi. Tempat seperti ini yang digunakan untuk menyembunyikan atau mengkamuflasekan. Jadi akan kami perketat pengawasan,” tegasnya. (aka)

 

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.