Terapkan PKM Jilid 4, Semarang Buka Tempat Wisata dan Hiburan

Walikota Semarang Hendrar Prihadi

SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang resmi menetapkan kebijakan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) jilid 4 untuk periode 22 Juni sampai 5 Juli 2020. Patroli ketertiban masyarakat  menaati protokol kesehatan dan tes massal Covid-19 akan tetap dilakukan.

Seperti yang sudah diketahui bahwa skema pelonggaran pembatasan kegiatan secara bertahap akan dilakukan Pemkot Semarang, salah satunya melalui kebijakan PKM jilid 4 tersebut. Meskipun dalam PKM jilid 4 diatur sejumlah pelonggaran pembatasan kegiatan, namun Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menegaskan untuk patroli ketertiban masyarakat dan tes massal COVID-19 akan tetap berjalan.

Hendi, sapaan akrab walikota menampik bahwa setiap jilid kebijakan PKM yang dikeluarkan merupakan persiapan memasuki regulasi New Normal, seperti yang akan dilakukan beberapa daerah. Ia menegaskan Kota Semarang tak pernah menetapkan PSBB, yang berarti sejak awal Ibu Kota Jawa Tengah ini telah menerapkan New Normal namun dengan istilah PKM. Adapun New Normal yang pernah disinggungnya merupakan sebuah standart-standart aktiftas baru dengan tanggung jawab yang tinggi.

Secara rinci disebutkan Hendi, bahwa untuk pelonggaran yang diatur dalam PKM jilid 4 terdiri dari 3 point. Pertama terkait diijinkannya tempat wisata dan tempat hiburan untuk beroperasi kembali mulai 22 Juni 2020, dengan rekomendasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang.

Kedua, tentang pembatasan jam operasional tempat usaha yang semula sampai jam 21.00, saat ini diberi kelonggaran hingga jam 22.00. Dan ketiga, soal kegiatan pernikahan dan pemakaman yang boleh melibatkan orang hingga 50% dari kapasitas ruang, namun sebanyak-banyaknya tidak lebih dari 50 orang.

Hendi menyampaikan, ada sedikit perbedaan antara New Normal versi PSBB dengan New Normal yang diupayakan di Kota Semarang.

“Loh kalau itu dari awal kita sudah New Normal. Pengertian New Normal daerah lain kan, tempat usaha dibuka, kalau kita selama ini tempat usaha buka terus. Kalau tutup pun tutup sendiri karena tidak ada (pengunjung) yang datang. Tapi dari pemerintah kota boleh (buka), asal SOP kesehatan dijalankan,” jelas Hendi.

“(Persoalan) medis dan ekonomi sama-sama penting, maka harus berjalan beriringan, dan pemerintah berupaya menyadarkan masyarakat pentingnya menerapkan SOP kesehatan,” tekannya.

Di sisi lain, Hendi juga kembali meluruskan soal Kota Semarang sebagai zona merah dengan banyaknya jumlah positif Covid-19 terkonfirmasi. Wali Kota Semarang itu menerangkan, penderita terkonfirmasi positif di Kota Semarang rata-rata dalam keadaan sehat, yang berarti penambahan jumlah penderita karena tes massal yang dilakukan.

“Saya tidak mau mengomentari kebijakan daerah lain. Tapi harusnya bicara NKRI, bicara Provinsi Jawa Tengah, mestinya ada standart yang harus dilakukan tiap daerah,” pungkas Hendi. “Kalau penanganannya dilakukan seragam, hasilnya pasti hampir sama, tergantung jumlah penduduk,” tandasnya. (duh)

 

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.